Pidato SBY Sempurna, tapi Tak Paripurna

Kompas.com - 14/08/2009, 15:26 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) secara keseluruhan mengapresiasi positif Pidato Kenegaraan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang disampaikannya pada Rapat Paripurna DPR, di Gedung DPR, Jakarta, Jumat (14/8). 

Pidato tersebut dinilai cukup komprehensif dan disampaikan secara elaboratif. Akan tetapi, Ketua Fraksi PPP, Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, terdapat satu titik lemah yang membuat pidato SBY yang "sempurna" itu menjadi tak paripurna alias tak mencapai puncak.

"Menurut saya, akan lebih lengkap, paripurna jika Presiden juga menjelaskan apa kendala riil atau hambatan yang dihadapi negara ini. Secara jujur itu harus disampaikan. Kalau ini kan, seolah semuanya baik sekali," ujar Lukman saat berbicara pada diskusi mingguan di Press Room Gedung DPR, sore ini.

Hal-hal baik yang diutarakan tanpa diimbangi dengan pemaparan masalah yang dihadapi, dikhawatirkan menciptakan 'utopia'. "Kita memahami kalau pemimpin itu harus memotivasi. Tapi jangan menjadi 'utopi' sehingga menyebabkan kurang berpijak ke bumi terhadap kendala riil sehingga bisa mengajak semuanya bahu membahu," kata anggota Komisi III DPR ini.

Persoalan riil bangsa saat ini, menurut dia, melunturnya jati diri bangsa yang menyebabkan sekelompok masyarakat memiliki keyakinan yang justru mengancam disintegrasi bangsa.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau