Empat PT Indonesia Ditantang pada Shell Eco-Marathon Asia 2010

Kompas.com - 14/08/2009, 15:46 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Empat perguruan tinggi ternama di Indonesia, yaitu Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Gajah Mada (UGM), Yogyakarta dan Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), Surabaya, akan mengikuti lomba irit bahan bakar yang diselenggarakan oleh Shell, yaitu Shell Eco-Marathon (SEM) Asia pertama.

Lomba tersebut akan diselenggarakan 8-10 Juli 2010 di sirkuit Sepang, Malaysia. Negara tetangga tersebut dipercaya oleh Shell menyelenggarakan lomba ini selama tiga tahun berturut. Setelah itu, nanti digilir ke negara Asia lainnya.

Peserta dari Indonesia disponsori oleh PT Shell Indonesia. Kendati hany diikuti 4 perguruan tinggi, namun Indonesia menyertakan 8 tim pada lomba ini. Masing-masing, UI dan ITB terdiri dari 3 tim, plus UGM dan ITS satu tim.

Setiap tim memperoleh dana US$2.000 dari Shell untuk mempersiapkan kendaraan yang akan di lombakan. Sedangkan, saat lomba nanti, setiap memperoleh akomodasi US$1.750.

Di Malaysia, tim Indonesia tersebut akan berkompetisi dengan peserta dari negara lain. Negara yang paling banyak mengirimkan tim, menurut Sri Wahyu Endah, Corporate Social Investment Manager, PT Shell Indonesia, adalah Pakistan. Negara tersebut mengirimkan 9 tim.

Negara lainnya, Malaysia mengirimkan 6 tim, Singapura 4, China 4, Thailand dan India, masing-masing 2, lantas Selandia Baru, Australia dan Filipina satu tim.

Dengan kondisi tersebut, Dr. Ir. Marzan A. Iskandar, Ketua Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), yang datang sebagai wakil pemerintah, yakin, peserta Indonesia bisa memenangkan lomba ini. Alasannya, kemampuan orang Indonesia – kalau ada kesempatan – tidak kalah dengan negara lain yang lebih maju. Di samping itu, pada SEM Asia pertama ini,   Indonesia mengirimkan tim nomor dua terbanyak.

3.771 km/liter
Rekor bahan bakar paling irit pada SEM yang telah diselenggarakan di Eropa dan Amerika Serikat, yaitu 3.771 km/liter. Hasil tersebut dicapai oleh tim dari perguruan tinggi Prancis, LPTI St Joseph La Joliverie Nantes pada lomba tahun ini.

Sementara itu, salah satu tim dari ITB, Rajawali berharap bisa memecahkan rekor tersebut. Kalau pun tidak bisa, mengharapkan konsumsi bahan bakar nya 3.200 km/liter.

Untuk jenis urban, rekor teririt, 1.246 km/liter yang diraih peserta dari NTNU Norwegia yang menggunakan bahan bakar hidrogen.

Futuristik & Urban
SEM adalah proyek pendidikan dari Shell yang menantang mahasiwa-mahasiwa dari perguruan tinggi merancang dan membuat kendaraan yang paling efisien atau teririt konsumsi bahan bakarnya. Pemenang adalah kendaraan yang berhasil menempuh jarak tempuh terjauh dengan pemakaian bahan bakar paling sedikit

SEM membagi lombanya pada dua jenis kendaraan. Pertama, futuristik (tiga roda), mengutamakan desain yang aerodinamis dan pemakaian bahan bakar efisien. Kedua adalah kendaraan konsep urban (empat roda), dirancang sesuai dengan kebutuhan masa kini, lebih realistik digunakan di dalam kota atau di lalu lintas padat lainnya. Kendaraan tersebut juga harus memenuhi aspek keselamatan.

Sedangkan sumber enegi, bisa menggunakan bahan bakar konvensional, seperti bensin, diesel, elpiji, bbg dan alternatif, yaitu hidrogen dan panas matahari. Ayo maju mahasiswa Indonesia!

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau