Oleh Rakaryan Sukarjaputra
KOMPAS.com-Status sebagai tahanan di penjara Israel tak mengungkung aktivitas politik Marwan Barghouthi. Tokoh pejuang Palestina ini bahkan semakin mendapat banyak dukungan dari pengikutnya hingga terpilih pada pemilihan umum Gerakan Fatah, Sabtu (8/8), sebagai anggota badan paling elite Fatah, Komite Sentral.
Dari sekian banyak tokoh Fatah yang terpilih masuk Komite Sentral, hanya Barghouthi yang berstatus tahanan. Penangkapan yang dilanjutkan penahanan oleh Israel pada 2002 tak mampu mengekang popularitas dan semangat juang Barghouthi yang disebut-sebut sebagai calon pengganti paling pas dari pendiri dan ”Bapak” Palestina, mendiang Yasser Arafat.
Barghouthi lahir di Desa Kobar, dekat Ramallah, 6 Juni 1958, dari keluarga besar Barghouthi dan Deir Ghassaneh. Ia bergabung dengan barisan pejuang Palestina pada usia 15 tahun, dan menjadi salah satu pendiri Shabiba (sayap kaum muda Fatah) di Tepi Barat pada pertengahan tahun 1970-an.
Tahun 1978 ia ditangkap Israel karena keterlibatannya dengan kelompok garis keras Palestina. Tinggal di penjara Israel selama sekitar 4,5 tahun dimanfaatkannya untuk mempelajari bahasa Ibrani.
Ketika perang intifadah I pecah pada 1987 (berlangsung hingga 1992), Barghouthi memimpin para pemuda Palestina dalam kerusuhan massal melawan Israel. Ia tertangkap Israel dan dideportasi ke Jordania. Ia tinggal di Amman selama sekitar tujuh tahun sampai mendapat izin kembali ke Tepi Barat berkat ditandatanganinya Kesepakatan Oslo pada 1994.
Kembalinya Barghouthi disambut rakyat Palestina. Dia mengatakan, siapa pun warga Palestina yang mau merundingkan batas-batas Palestina pada 1967 adalah pengkhianat. Ia meyakini masalah itu akan membawa kehancuran bagi rakyat Palestina.
Popularitas Barghouthi di kalangan masyarakat bawah terbukti dengan terpilihnya dia sebagai anggota Dewan Legislatif Palestina pada 1996. Padahal, ketika itu pemimpin Palestina, Yasser Arafat, tak memasukkannya dalam daftar kandidat anggota Dewan Legislatif dari Fatah.
Wadah politik
Melalui wadah politik ini, dia lebih serius mengampanyekan berdirinya negara Palestina merdeka. Ia menjadi juru kampanye yang keras terhadap praktik korupsi di Gerakan Fatah sehingga sering kali berkonflik dengan Arafat.
Dia juga rajin mengkritik pemusatan kekuasaan di bawah Arafat. Puncaknya, pertengahan tahun 2000 Barghouthi dan Arafat berhadapan sebagai seteru. Barghouthi menuduh pemerintahan Arafat korup dan pasukan keamanan Fatah melakukan sejumlah pelanggaran hak asasi manusia.
Barghouthi kembali berperan dalam perang intifadah II (2000-2005), dengan membentuk organisasi Tanzim dan brigade martir Al Aqsa. Brigade martir Al Aqsa dianggap bertanggung jawab atas berbagai tindakan teror di wilayah Israel dan diidentifikasi sebagai kelompok teroris oleh Departemen Luar Negeri AS.
”Saya tahu, akhir September (tahun 2000) merupakan kesempatan terbaik sebelum ledakan (intifadah). Tetapi, saat Sharon berada di Masjid Al Aqsa (sebelum September), saya pikir inilah saat yang tepat untuk meletuskan intifadah,” ungkap tokoh yang bergelar sarjana muda bidang ilmu sejarah dan politik itu dalam wawancara dengan Al Ayyam, London, dan dipublikasikan pada 29 September 2001.
Ia menambahkan, Jerusalem dan Masjid Al Aqsa adalah isu yang paling mudah membakar emosi warga Palestina.
Dia beberapa kali menjadi target penangkapan, tetapi berhasil lolos. Pada 15 April 2002 Barghouthi ditangkap tentara Israel di Ramallah, kemudian dibawa ke markas polisi di Jerusalem. Israel menyidangkan dia di pengadilan sipil, tetapi Barghouthi menolak adanya pembela dan melakukan pembelaan sendiri. Baginya, proses persidangan itu tidak sah.
Pada 20 Mei 2004 dia divonis atas lima kejahatan pembunuhan. Ia juga didakwa terlibat dalam 21 kasus pembunuhan pada 33 kasus lain, tetapi karena kurang bukti, dia terbebas dari tambahan vonis. Pada 6 Juni 2004, pengadilan memvonis hukuman penjara lima kali umur hidup untuk lima pembunuhan dan 40 tahun penjara untuk percobaan pembunuhan lain.
”Pendudukan Israel akan berakhir suatu hari nanti. Mereka tengah sekarat,” kata Barghouthi sesaat sebelum pengadilan Tel Aviv memvonis hukuman lima kali umur hidup kepadanya.
Calon presiden
Tahun 2004, setelah meninggalkan Arafat, Barghouthi dari penjara di Israel menyampaikan niatnya ikut pemilu presiden Palestina pada Januari 2005. Namun, pada 26 November 2004 dia mundur dari pencalonan setelah mendapat tekanan dari faksi Fatah untuk mendukung pencalonan Mahmoud Abbas.
Barghouthi memilih mengabaikan pencalonannya demi persatuan Palestina. Seiring dengan itu, dia diusir dari keanggotaan Fatah.
Dalam wawancara dengan koran Israel, Yedioth Ahronoth, 5 Oktober 2007, yang kemudian dipublikasikan juga oleh koran Palestina, Al-Quds, Barghouthi meyakini, meski sempat berseteru, Arafat sebelum meninggal berjuang keras untuk membebaskan dia dan tahanan politik Palestina lainnya.
”Abu Maher (Abbas) seharusnya kembali ke Palestina bersama mendiang Abu Ammar (Yasser Arafat), tetapi hal itu tidak diperbolehkan dalam Kesepakatan Oslo sehingga dia memilih tinggal di Tunis. Saya memuji setiap orang yang ingin kembali, dan Abu Maher adalah satu dari anggota tua Fatah,” ungkap Barghouthi ketika ditanya mengenai Mahmoud Abbas sebagai pemimpin baru Palestina menggantikan Arafat.
Sebaliknya, saat ditanya mengenai Hamas yang kemudian menguasai penuh Gaza, Barghouthi terlihat marah. Dia menganggap Hamas menikam rakyat Palestina dari belakang. Kudeta di Gaza merupakan kesalahan strategis yang menghancurkan semua kemungkinan untuk bekerja sama dengan Fatah.
”Itu adalah sebuah kejutan, dan saya tak pernah percaya Hamas bisa melakukan perbuatan seperti itu. Ini adalah tikaman pisau kepada kemitraan dalam perjuangan, demokrasi, dan persatuan nasional. Ini menyakitkan. Tak hanya Hamas yang menderita, tetapi juga rakyat Palestina secara keseluruhan dan persatuan bangsa,” katanya.
Ketika Barghouthi terpilih kembali menjadi anggota Dewan Legislatif Palestina, Januari 2006, debat mengenai masa depan dia dibicarakan kalangan politisi Israel. Banyak yang propembebasannya, tetapi banyak juga yang kontra.
Januari 2007, Wakil Perdana Menteri Israel Shimon Peres menyatakan akan menandatangani surat amnesti untuk Barghouthi jika ia terpilih menjadi presiden. Namun, meski Peres terpilih sebagai presiden, amnesti yang dijanjikan itu belum juga diumumkan.
Tak jelas apakah posisi Barghouthi sebagai anggota elite Komite Sentral akan membuat Israel lebih melunak dan memanfaatkan dia dalam perundingan mewujudkan dua negara bertetangga yang hidup damai, Israel dan Palestina. Yang jelas, posisinya di Komite Sentral membuat sosok Barghouthi semakin penting dan diperhitungkan.(webgaza.net/palestinehistory.com/ Reuters/imeu.net)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang