Polri Enggan Sebarkan Foto Para Buronan

Kompas.com - 15/08/2009, 06:13 WIB
 
 

JAKARTA, KOMPAS.com - Mabes Polri masih enggan menyebarkan foto orang-orang yang diduga terlibat dengan kelompok teroris yang bertanggung jawab di balik pengeboman Hotel JW Marriott dan The Ritz-Carlton pada 17 Juli. Saat ini dari 11 orang yang diduga terlibat, tiga di antaranya masih buron.

Ketiganya adalah Noordin M Top, Syaifudin Zuhri bin Djaelani Irsyad, dan seorang laki-laki bernisial S. Dari ketiga sosok itu, saat ini baru Noordin M Top yang wajahnya sudah banyak dikenali masyarakat.

Penyebaran foto wajah Noordin itu diharapkan dapat membantu polisi untuk mempersempit ruang gerak teroris warga negara Malaysia. Namun, wajah kedua buronan lainnya belum secara resmi diumumkan dan disebarkan Polri. ”Jangan dulu ya,” kata Kepala Polri Jenderal Polisi Bambang Hendarso Danuri tanpa menjelaskan alasannya, Jumat (14/8).

Sebelumnya, Polri telah menyebutkan soal salah satu buronan penting, Syaifudin Zuhri, yang salah satu perannya merekrut dua pelaku bom bunuh diri. Syaifudin merupakan adik ipar Ibrohim—perangkai bunga di Hotel The Ritz-Carlton. Ibrohim tewas dalam penyerbuan polisi di Beji, Kedu, Temanggung, Jawa Tengah, 8 Agustus.

Panggilannya Udin

Sabil Kurniawan (38), salah satu kakak Syaifudin, menuturkan, Syaifudin merupakan anak kelima dari delapan bersaudara dan memiliki nama panggilan Udin. Orangtua Udin tinggal di Dusun Kliwon, Desa Sampora, Kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan, yang juga merupakan alamat rumah Ibrohim.

Sabil membenarkan, Udin pernah bersekolah di Republik Yaman selama empat tahun selepas madrasah aliyah (SMA). Udin membiayai sendiri sekolah ke Yaman dari hasil kerjanya.

”Namun, kami tak tahu ada keterangan lulus atau tidaknya, tetapi ia memang sekolah di Yaman,” kata Sabil.

Sabil mengakui, wajah Syaifudin yang pernah ditayangkan di televisi adalah Udin, adiknya. Udin selama ini tinggal di Perumahan Telaga Kahuripan, Kemang, Kabupaten Bogor. Ia jarang pulang ke Kuningan. Kontak pun lebih banyak lewat telepon, tetapi Udin sering kali sulit dihubungi. Istri Udin, Cholifah Sari, juga kadang tak tahu ke mana suaminya pergi.

Udin juga dikenal sebagai sosok yang sulit difoto. Karena itu, keluarga sulit menemukan dokumentasi fotonya. Edi Suhardiman, sahabat Djaelani dan juga tetangga Ibrohim, menyebut Udin sangat pendiam. Udin pun tak tercatat dalam kartu keluarga ayahnya di Desa Sampora.

Saat pernikahan pertama Eri Djuariyah, putri bungsu Djaelani, dengan Amir Abdillah (tersangka terorisme yang ditangkap di Semper, Jakarta Utara) di Kuningan, Udin yang membacakan doa pada akad nikah adiknya itu.

 Selama tinggal di Bogor, selain dikenal sebagai ustaz dan pengecer teh rosela, Udin juga berprofesi sebagai tabib pengobatan alternatif di Klinik Thibun Nabawi Al Iman di kawasan Malabar, Bogor Selatan. Klinik tersebut milik Firman Kurniawan (34). Udin menjadi salah satu tabib di kliniknya dari tahun 2007 sampai Maret 2009. Udin sudah mulai jarang datang sejak Februari 2009.

Saat masih praktik, Udin juga kerap menghilang satu sampai dua minggu. Ketika muncul lagi, dia beralasan pergi ke luar kota untuk mengurus pembelian barang-barang dagangannya.

Sebagai pekerja di situ, Udin menyerahkan fotokopi KTP kepada Firman. Nomor Induk Kependudukan di fotokopi itu adalah 32.03.06.130277.04942. Nama yang tertera di KTPadalah Syaifudin Zuhri, lahir di Jakarta, 12 Februari 1977. Tanggal terbit KTP 23 September 2008 dan ditandatangani oleh Camat Kemang HM Wirakusumah.

”Dia pernah mengaku dari Arab untuk mengambil obat herbal,” tutur Firman.

Firman menambahkan, suatu kali Udin pernah meminjam rekening tabungannya di Bank BCA. Udin mengaku belum memiliki rekening tabungan di bank, sementara rekannya akan mentransfer uang. Firman tidak tahu besar uang yang ditransfer rekan Udin tersebut. Beberapa waktu kemudian, Firman melihat Udin sudah memiliki buku tabungan dari Bank BCA Bogor.

Aris dan Indra

Sementara itu, di Solo, Sekretaris Umum Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) Abdurrahman mengaku tidak mengetahui apakah Aris Susanto (31) dan Indra Arif Hermawan (24) merupakan anggota JAT atau bukan. Secara pribadi, ia juga mengaku tidak mengenal dua orang asal Temanggung itu. Namun, Abdurrahman juga belum dapat menegaskan Aris dan Indra bukan anggota JAT. Pasalnya, jumlah anggota JAT cukup banyak, mencapai sekitar 500 orang yang tersebar di lima wilayah, yakni Banten, DKI Jakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Sementara itu, pimpinan JAT Abu Bakar Ba’asyir menyatakan tidak mengenal sosok Aris dan Indra. Aris dan Indra adalah keponakan Muhjahri, pemilik rumah di Temanggung yang digunakan untuk persembunyian Ibrohim. Polri memutuskan membebaskan Muhjahri yang tak terbukti terlibat langsung dengan kelompok teroris.

Nana Supriyatna

Sementara itu, Nana Ichwan Maulana—pelaku bom bunuh diri di Hotel Ritz Carlton—pada Jumat malam dimakamkan di tempat pemakaman umum Kampung Kebon Cau, Labuan, Kabupaten Pandeglang, Banten. Nana terlahir dengan nama Nana Supriyatna. Namun, semasa hidupnya dia kerap menyebut dirinya sebagai Ichwan Maulana.

Hasil tes DNA terhadap Nana dengan keluarganya, yakni ibunya Zubaidah dan kakaknya, menunjukkan kecocokan.

Menurut penuturan beberapa temannya, Nana pernah pergi ke daerah konflik, seperti Ambon dan Poso, pada 2004. Nana juga mengidolakan Imam Samudra, pelaku bom Bali I.

Selepas menamatkan sekolah dasar sekitar tahun 1992, Nana tak melanjutkan sekolahnya. Nana bekerja sebagai buruh serabutan. Terakhir kali bekerja di proyek pembangunan PLTU II Banten di Labuan selama enam bulan. Satu bulan setelah berhenti, tepatnya Juni, Nana pamitan bekerja di tempat lain.

(SF/NIT/RTS/EKI/HAN/ EGI/UTI/CAS/SEM)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau