Target India, Perangi Terorisme

Kompas.com - 15/08/2009, 13:54 WIB

NEW DELHI, KOMPAS.com — India, Sabtu (15/8), memperingati hari kemerdekaannya dari pendudukan Inggris dan berikrar akan memberantas terorisme dari wilayahnya sebagai balasan serangan kelompok garis keras tahun lalu atas Mumbai.
    
India memperkuat keamanannya guna mencegah serangan-serangan seperti yang terjadi di pusat keuangannya November lalu itu, yang menewaskan 166 orang, dilakukan oleh gerilyawan bersenjata. Hal itu dikatakan Perdana Menteri Manmohan Singh.
    
"Setelah serangan Mumbai, pemerintah kami melakukan berbagai tindakan, dan badan intelijen kami serta organisasi-organisasi keamanan diperkuat," kata Singh dalam pidato dari Red Fort di ibu kota India.
    
"Kami akan terus memberantas terorisme dari bumi India," kata Singh.
    
Pidato peringatan Hari Kemerdekaan, yang mengakhiri kekuasaan Inggris pada 1947, membagi anak benua ke dalam India yang mayoritas Hindu, dan Pakistan yang sebagian besar berpenduduk Muslim. Perpecahan ini menyebabkan ketegangan tanpa henti di wilayah tersebut.
    
Singh tidak menyebut Pakistan sebagai musuh India dengan nama, tetapi menegaskan kembali bahwa India ingin hidup damai dan harmonis dengan tetangga-tetangganya. India dan Pakistan yang memiliki senjata nuklir memulai proses perundingan perdamaian pada 2004, dan dilanjutkan setelah serangan Mumbai.
    
India mengatakan, badan-badan resmi di Pakistan bersekongkol dengan para penyerang yang datang lewat laut, dan menargetkan serangan mereka pada dua hotel, stasiun kereta api, dan satu pusat Yahudi.
    
Islamabad menolak tuduhan-tuduhan itu. Namun, mereka menerima bahwa para penyerang itu adalah warga negara Pakistan.
    
Islamabad juga mengatakan bahwa pihaknya berusaha untuk membawa para perancang serangan itu ke pengadilan.
    
Singh juga berjanji akan menumpas pemberontakan Maoist yang telah bercokol di negara itu sejak hampir setengah abad lalu. Ia mengatakan, mereka berperang  menentang eksploitasi terhadap para petani tak punya tanah. "Masyarakat yang berpikir bahwa mereka bisa memerintah dengan kuat, itu jelas merendahkan perkiraan kekuatan demokrasi di India," kata Singh.
    
New Delhi kini berada di bawah selimut keamanan yang ketat, dengan pasukan komando bersenjata berat, mengawal benteng pertahanan dari batu pasir. Di dalamnya, para menteri kabinet, diplomat dan tamu-tamu undangan mendengarkan pidato Singh. Sementara itu, polisi membentuk barikade perintang jalan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau