Bawalah Gelar untuk Negeri Ini, Nova/Liliyana

Kompas.com - 16/08/2009, 00:35 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Bulu tangkis Indonesia miskin gelar sepanjang tahun 2009. Bahkan setelah Markis Kido/Hendra Setiawan menyabet medali emas ganda putra di Olimpiade Beijing 2008 bulan Agustus lalu, negeri ini mulai paceklik.

Kini, harapan untuk mengakhiri masa-masa sulit tersebut mulai tersibak karena Nova Widianto/Liliyana Natsir bisa menembus final Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis 2009 yang berlangsung di Hyderabad, India. Ganda nomor dua dunia tersebut menjadi satu-satunya andalan agar bisa membawa gelar juara ke negeri ini.

Sebenarnya, ada tiga wakil Indonesia yang tampil di semifinal. Selain Nova/Liliyana, masih ada dua pemain di sektor tunggal putra, yaitu Taufik Hidayat dan Sony Dwi Kuncoro.

Tetapi, Taufik dan Sony gagal meruntuhkan tembok China. Taufik tak berdaya menghadapi Chen Jin, sedangkan Sony kembali harus menelan kekalahan dari Lin Dan.

Dengan demikian, tinggal Nova/Liliyana yang menjadi harapan. Dan, pasangan ini juga menjaga peluang untuk mempertahankan gelar Kejuaraan Dunia yang mereka raih dua tahun lalu di Malaysia--tahun lalu Kejuaraan Dunia tidak diselenggarakan karena bertepatan dengan Olimpiade di Beijing.

Nova/Liliyana hanya perlu satu langkah lagi untuk mewujudkan impian mereka itu, sekaligus harapan seluruh pecinta bulu tangkis Indonesia. Mereka memastikan dapat tiket ke final setelah menyingkirkan pasangan Denmark Joachim Fischer Nielsen/Christinna Pedersen.

Namun, pasangan utama di Pelatnas Cipayung tersebut kembali harus menghadapi pemain Denmark Thomas Laybourn/Kamilla Rytter Juhl pada final hari Minggu ini. Unggulan ketujuh tersebut lolos setelah membuat kejutan lagi dengan menyingkirkan unggulan utama asal Korea Selatan, Lee Yong Dae/Lee Hyo Jung 18-21 21-19 21-18--sebelumnya, Layborn/Rytter Juhl juga menyingkirkan unggulan ketiga dari China yang baru saja juara di Indonesia Terbuka, Zheng Bo/Ma Jin.

Melihat calon lawannya, peluang Nova/Liliyana untuk menang lebih besar dibandingkan jika harus berhadapan dengan Lee Yong Dae/Lee Hyo Jung, yang mengalahkan mereka di final Olimpiade Beijing 2008. Pasalnya, mereka juga sudah sering menang atas lawannya dari  Denmark tersebut.

Ini yang membuat satu-satunya wakil Indonesia yang maju ke final tersebut cukup optimistis bisa menang. Menurut Nova, jika mereka bisa tampil lebih baik dibandingkan saat melawan Fischer/Juhl, maka peluang menang lebih besar dan mereka bisa mempertahankan gelar juara yang disabet pada tahun 2007

"Mudah-mudahan di final kami bisa main lebih baik lagi, karena pasangan Denmark yang akan kami hadapi juga cukup berat," kata Nova yang bakal pensiun dari Pelatnas Cipayung usai tampil di turnamen ini.

Meskipun demikian, tekad dan semangat Laybourn/Rytter Juhl harus diwaspadai. Setelah membuat dua kejutan beruntun (taklukkan pasangan China dan Korea) untuk lolos ke final, mereka berambisi menjadi juara meskipun kurang difavoritkan.

"Kami akan tampil tanpa beban karena sejak awal memang tidak pasang target apa-apa. Tapi karena sudah masuk final, kami tentu ingin meraih gelar juga," ungkap Laybourn, yang mengaku Nova/Liliyana sama beratnya dengan dua pasangan unggulan yang dikalahkan sebelumnya.

China pastikan tiga gelar

China masih menunjukkan kelasnya sebagai raja bulu tangkis dunia. "Negeri tirai bambu" ini sudah pasti menyabet tiga gelar karena terjadi all-Chinese final di nomor tunggal putra (Chen Jin vs Lin Dan), tunggal putri (Xie Xingfang vs Lu Lan) dan ganda putri (Zhang Yawen/Zhao Tingting vs Cheng Shu/Zhao Yunlei).

Khusus sektor ganda putri, China memang selalu mendominasi di turnamen ini. Sejak tiga edisi sebelumnya (2005,2006 dan 2007), mereka selalu menempatkan semua wakilnya di final. Bahkan sejak kejuaraan dunia 1997, nomor ganda putri tidak pernah lepas dari genggaman mereka.

Selain tiga nomor tersebut, China juga berpeluang menambah satu gelar di sektor ganda putra, setelah unggulan kelima Cai Yun/Fu Haifeng melangkah ke final berkat kemenangan atas pasangan Malaysia Abdul Latif Mohd Zakry/Mohd Tazari Mohd Fairuzizuan. Tetapi, mereka bakal menghadapi kesulitan besar karena harus menghadapi pasangan Korea Selatan yang bulan Juni lalu menjadi juara Indonesia Terbuka, Jung Jae Sung/Lee Yong Dae.

Jadwal final, Minggu (16/8)

- Tunggal putra
(5) Lin Dan (China) vs (2) Chen Jin (China)

- Ganda campuran
(7) Thomas Laybourn/Kamilla Rytter Juhl (Denmark) vs (2) Nova Widianto/Liliyana Natsir

- Ganda putri
(8) Zhang Yawen/Zhao Tingting (China) vs (2) Cheng Shu/Zhao Yunlei (China)

- Tunggal putri
(5) Xie Xingfang (China) vs (7) Lu Lan (China)

- Ganda putra
(5) Cai Yun/Fu Haifeng (China) vs (4) Jung Jae Sung/Lee Yong Dae (Korea Selatan)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau