Yettaw Dideportasi, Suu Kyi Tetap Ditahan

Kompas.com - 16/08/2009, 04:26 WIB

YANGON, KOMPAS.com — John Yettaw, warga Amerika Serikat yang sudah divonis tujuh tahun penjara oleh junta militer Myanmar karena berenang menyeberang tanpa izin ke rumah tokoh demokrasi Aung San Suu Kyi, bulan Mei silam, hari Minggu (16/8) ini hampir pasti akan dideportasi ke AS.

”Saya berterima kasih kepada Pemerintah Myanmar karena mengabulkan permintaan ini,” ungkap Senator AS Jim Webb, Sabtu, setelah menemui petinggi junta Myanmar, Than Shwe. Webb bahkan sempat pula bertemu dengan tokoh demokrasi Aung San Suu Kyi hari itu.

Senator Webb juga mengaku meminta kepada junta agar membebaskan Suu Kyi—yang sudah menghabiskan sebagian besar waktunya dalam dua dekade terakhir dalam tahanan rumah. Akan tetapi, Suu Kyi yang telah divonis tahanan rumah 18 bulan karena melanggar ketentuan tahanan rumah (membiarkan tamu menemuinya, tanpa izin) tampaknya tetap akan menjalani hukumannya.

Kapasitas pribadi

Senator Jim Webb datang ke Yangon melobi junta Myanmar dalam kapasitas pribadi, seperti yang dilakukan mantan Presiden AS Bill Clinton ketika membebaskan dua jurnalis yang ditangkap dan dipenjara Pemerintah Korea Utara, pekan lalu.

Menurut pernyataan kantor Senator AS Jim Webb, Yettaw yang sakit-sakitan dan menderita epilepsi itu resmi akan dideportasi Minggu pagi. ”Bersama Senator, (Yettaw) akan dibawa ke luar dari Myanmar dengan pesawat militer menuju Bangkok (Thailand), Minggu sore,” demikian pernyataan dari pihak senator AS itu.

Jadi legitimasi junta

Meski upaya Webb ini mungkin membuat lega warga AS, tak urung Webb juga menjadi sasaran kritik tajam dari para aktivis prodemokrasi pendukung Suu Kyi. Kunjungan senator AS ini, menurut mereka, bisa dijadikan semacam legitimasi oleh junta.

Menurut aktivis, bisa saja izin itu sengaja diberikan untuk menepis derasnya kritik dari dunia internasional terhadap Myanmar menyusul putusan pengadilan untuk memperpanjang tahanan rumah Suu Kyi 18 bulan lagi.

Suu Kyi telah menghabiskan 14 tahun dari 20 tahun terakhir masa hidupnya dalam tahanan rumah. Vonis hukuman terakhirnya pekan lalu itu dijatuhkan setelah Yettaw (53), veteran perang Vietnam yang juga mantan jurnalis itu, menemui Suu Kyi, dengan diam-diam menyeberangi kolam menuju rumah Suu Kyi pada Mei lalu.

Tentang kunjungan Jim Webb—terutama upayanya menemui junta militer serta Suu Kyi—juga dikritik aktivis karena terjadi pada saat yang tidak tepat. Hanya beberapa hari setelah junta militer Myanmar menepis imbauan internasional untuk membebaskan Suu Kyi dari tuduhan-tuduhan terakhirnya kali ini.

Dalam suratnya yang ditujukan kepada Jim Webb, aktivis perlawanan terhadap junta Myanmar mengingatkan bahwa junta akan memanfaatkan kunjungan Webb untuk tujuan mereka.

Para aktivis dalam suratnya kepada Senator AS menyebutkan, prihatin, junta militer akan memanipulasi dan mengeksploitasi kunjungan tersebut. Junta juga akan mempropagandakan, Anda mendukung perlakuan junta atas Daw Aung San Suu Kyi, 2.100 tahanan politik, dan pelanggaran mereka terhadap hak-hak asasi manusia atas rakyat Myanmar. (AP/Reuters/sha)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau