Festival Kali Malang, Puluhan Tahun Jadi Tradisi 17-an

Kompas.com - 17/08/2009, 15:12 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com- Seperti apa memaknai kemerdekaan? Pasti jawaban yang timbul akan sangat beragam. Dengan cara apapun, makna berbangsa semoga selalu melekat dalam setiap perhelatan untuk memperingatinya.

Warga di sekitar Kali Malang punya cara sendiri. Festival Kali Malang namanya. Setiap tanggal 17 Agustus, sejak berpuluh-puluh tahun lalu, aneka lomba digelar di sepanjang kali buatan untuk memasok air baku bagi PDAM Jakarta itu.

Menurut kisah warga setempat, Suwarman, sejak tahun 1980-an tradisi itu sudah berlangsung. Mungkin perlombaan yang digelar tak jauh berbeda dengan yang diadakan di berbagai daerah lainnya. Tapi yang menjadi menarik karena sejumlah lomba diadakan di atas permukaan kali, sehingga menambah kegayengan saat peserta lomba harus tercebur ke dalamnya.

"Saya tinggal di sini tahun 1980, sudah ada acara seperti ini setiap 17-an," terang Suwarman yang ditemui Kompas.com, di sela-sela perlombaan 17-an di RT 10 RW 01, Cipinang Melayu, Jakarta Timur, Senin ( 17/8 ).

Bedanya, ujar dia, hanya di jenis perlombaan dan aneka hadiah yang disediakan. "Kalo sekarang lombanya lebih banyak macemnya, hadiahnya juga bagus-bagus. Kalo dulu paling buku, baju. Seadanya lah," kata Suwarman.

Warga lainnya, Hasan, juga menuturkan hal yang sama. Ia mengatakan, salah satu yang menjadi daya tarik karena perlombaan dilakukan secara serentak di sepanjang kali. Penyelenggaranya adalah pengurus RT atau RW setempat. Besar kecilnya hadiah dan format acara, tergantung pada sponsor yang berhasil didapatkan.

"Kalau di RT 01, tahun ini lumayan. Kita bikin dua panjat pinang dengan hadiah total masing-masing Rp 2 juta. Hadiah paling mahal, sepeda seharga 700 ribu," ujar Hasan, yang juga Ketua RT 01. Bagi warga sekitar, 17 Agustus seakan menjadi pesta rakyat dan selalu dinanti.

Sementara, bagi para penonton yang berasal dari segala penjuru Jakarta dan sekitarnya, Festival Kali Malang sudah menjadi agenda rutin yang wajib dikunjungi setiap peringatan hari kemerdekaan. Setidaknya, hal itu diakui oleh Gunawan, warga Cawang, Jakarta Timur yang bersama istri dan dua orang anaknya selalu menyambangi festival tersebut.

"Kebetulan, saya juga hobi foto. Jadi sekalian hunting. Kalau anak-anak, suka aja liat ramenya. Apalagi kalau lomba gebuk bantal," kata Gunawan.

Perlombaan gebuk bantal menjadi salah satu lomba yang menarik perhatian penonton dan khas dengan Festival Kali Malang. Dalam perlombaan ini, dua orang peserta duduk di atas sebatang bambu dengan berbekal masing-masing bantal panjang (berbentuk guling). Siapa yang lebih dulu berhasil memukul jatuh lawan ke kali, akan keluar sebagai pemenang.

Pada peringatan HUT-ke64 RI ini, perayaan Festival Kalimalang penuh dengan beragam sponsor. Terlihat dari umbul-umbul yang terpasang, terutama provider ponsel. Apapun bentuk acaranya, apapun bentuk lombanya, semoga tetap menyematkan semangat dan nilai-nilai perjuangan yang membawa Indonesia ke masa sekarang.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau