Afganistan Bersiap Hadapi Pilpres

Kompas.com - 18/08/2009, 06:55 WIB

KABUL, KOMPAS.com - Hari terakhir kampanye menjelang pemilihan presiden Afganistan Kamis nanti sudah dilaksanakan pada Senin (17/8). Tapi, para militan Taliban mengancam akan mengganggu pilpres tersebut.

Bekas pemimpin perang Jendral Abdul Rashid Dostum mendukung Presiden Hamid Karzai dalam sebuah rapat akbar, setelah dia tiba dari pengasingan di Turki.

Karzai menghadapi lebih dari 30 penantang, tetapi dia dianggap sebagai orang yang akan memenangkan pemilihan itu.

Dua saingan utamanya, yang sebelumnya menjabat sebagai menteri di bawah Karzai, juga telah mengadakan kampanye terakhir.

Rapat massal

Di ibu kota, Kabul, mantan Menteri Luar Negeri Abdullah Abdullah berpidato di hadapan 10.000 pendukungnya, banyak dari mereka mengibarkan bendera biru.

Bekas Menteri Keuangan, Ashraf Ghani berorasi di depan 5.000 orang di Provinsi Nangarhar di kawasan timur.

Ghani, yang mengkampanyekan pembangunan ekonomi, berjanji untuk menggantikan "pemerintah yang korup dengan pemerintah yang sah", demikian dilaporkan kantor berita Prancis, AFP.

Sementara itu di kawasan utara negara itu, ribuan orang Afganistan menghadiri kampanye akbar dipimpin oleh pemimpin perang Jenderal Abdul Rashid Dostum, seorang sekutu penting Karzai dan bekas panglima militernya.

"Kita perlu memilih Hamid Karzai di masa depan," kata Jendral Dostum kepada para pendukung di Shiberghan, kota asalnya.

PBB dan Amerika menyampaikan kekhawatiran mereka mengenai waktu kembalinya Jendral Dostum dan kemungkinan peran yang akan dia mainkan dalam pemerintahan yang baru.

Dalam debat pilpres di televisi yang disiarkan langsung hari Minggu kemarin, Karzai membela persekutuannya dengan sejumlah pemimpin perang Afganistan, dan mengatakan mereka melakukan tindakannya demi kepentingan negara.

Ancaman Taliban

Pemilihan presiden ini akan dilangsungkan di tengah meningkatnya aksi kekerasan di negara itu, dan para militan Taliban mengancam akan menghukum siapapun yang ikut serta.

Ada kekhawatiran tidak akan banyak pemilih yang berpartisipasi karena ancaman itu.

Sebuah survei yang dilakukan oleh BBC Siaran Afganistan menunjukkan pemerintah memiliki kendali terbatas atau tidak bisa mengendalikan sama sekali 30 persen wilayah negara itu.

Survei itu didasarkan pada penilaian para reporter di lapangan yang menemukan bahwa di 4 persen distrik di Afganistan, pemerintah tidak menyediakan pengamanan maupun pelayanan sama sekali.

Mayoritas distrik-distrik itu berada di kawasan selatan, tempat sebagian besar serangan Taliban terjadi.

Seorang juru bicara Presiden Karzai mengatakan pemerintah tidak setuju dengan temuan itu dan bahwa masalah keamanan hanya ada di beberapa distrik.

Wartawan BBC Ian Pannell di Afganistan mengatakan ada bukti korupsi di Afghanistan, tetapi perang yang masih berlanjut melawan Talibanlah, di paling tidak sepertiga wilayah negara itu, yang membuat pilpres ini jauh dari normal.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau