Tommy Soeharto Terganjal AD/ART Golkar

Kompas.com - 18/08/2009, 14:24 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Pencalonan Tommy Soeharto dalam bursa pencalonan ketua umum Partai Golkar bakal terganjal aturan partai. AD/ART Partai Golkar selama ini mengatur bahwa calon ketum Golkar paling tidak pernah menjabat dalam satu periode kepengurusan Golkar. Sementara Tommy, meski anggota, tak pernah menjabat sebagai pengurus harian.

Calon ketua umum Golkar, Yuddy Chrisnandi, mengatakan, Tommy dapat melenggang terus menuju Munas jika persyaratan dalam AD/ART tersebut diubah. "Saya tak bisa komentar banyak, tapi kita harus kembali kepada aturan-aturan dasar. Kita tak dapat menghalangi siapa pun yang mau maju menjadi calon ketum. Tapi, kita kan enggak mau, begitu ada yang masuk, langsung diubah," ujar Yuddy di sela-sela Seminar Nasional Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (SOKSI) bertajuk "Golkar Bangkit" di Hotel Sultan, Selasa (18/8).

Meski demikian, dia menyambut baik munculnya Tommy Soeharto dalam bursa calon ketum Golkar periode 2009-2014. Menurutnya, ini membuktikan Golkar tak kekurangan kader-kader yang baik. "Kalau saya menyambut gembira kalau ada nama-nama baru. Dari sisi kepentingan, Golkar tidak kekurangan kader. Tinggal pertimbangan tata cara dan persyaratan pencalonan," tuturnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau