JAKARTA, KOMPAS.com — Politisi muda Partai Golkar Yuddy Chrisnandi secara jujur mengakui, partainya kini sedang di ambang kelemahan untuk bersaing dengan partai-partai lain. Golkar, kata Yuddy, seakan kian melemah di mata rakyat, seperti tercermin dari hasil pemilu legislatif maupun pemilu presiden lalu.
"Saya juga salah satu unsur pimpinan Golkar. Para pimpinan Golkar asyik dengan dirinya sendiri. Asyik dengan kedudukannya, tapi semakin jauh dengan rakyat. Semua pimpinan Gollkar bertanggung jawab dalam melakukan prediksi di pemilu kemarin," kata Yuddy saat menjadi pembicara pada seminar nasional "Golkar Bangkit" dengan tema "Sejarah, Problematika, Tantangan, dan Solusi" yang diselenggarakan oleh sayap Partai Golkar, SOKSI, di Hotel Sultan, Selasa (18/8).
Yuddy kemudian memberikan warning, bila Partai Golkar tak berubah, jangan harap bisa bersaing dengan partai-partai lain.
"Kita hanya asyik dengan kedudukan. Namun, kita makin jauh dengan apa yang diinginkan rakyat. Di 2010-2014, partai baru sebagai kompetitor Golkar akan lakukan regenerasi. Kalau tak ada terobosan dramatis, maka Golkar akan sama seperti partai-partai baru yang hanya mendapat 10 persen di pemilu kemarin," Yuddy meyakini.
Ia tidak yakin kalau uang menjadi persoalan utama di dalam tubuh Golkar selama ini. Persoalan utama Partai Golkar, kata Yuddy, adalah lunturnya sifat kegotongroyongan.
"Lunturnya nilai-nilai perjuangan. Golkar, bagi saya adalah partai perjuangan. Partai yang menjunjung tinggi kekaryaan. Tanpa basis dan ideologi yang ditanamkan kembali, maka Golkar tamat. Siapa pun bisa dipilih menjadi ketua umum. Tapi pertanyaannya, apakah nanti akan dipilih oleh rakyat. Saya berniat maju bukan karena ingin berkuasa, tapi saya ingin menyelamatkan Golkar," tegasnya.
Pengamat politik dari Indo Barometer Mohammad Qodari dalam diskusi itu menyatakan, Golkar harus bisa bersikap realistis. Berjuang, mencari cara untuk bisa menang pada 2014.
"Saya yakin Golkar bisa bangkit karena memiliki beberapa syarat untuk bisa tampil kembali sebagai pemenang. Memiliki infrastruktur yang begitu masif, sayang kalau tak dimanfaatkan," kata Qodari.
Menurut dia, musuh utama Golkar ada di dalam dirinya sendiri, membiarkan variabel-variabel eksternal menentukan nasib Golkar.
"Tantangan ke depan Golkar harus mengubah komposisinya. Tujuh puluh (70) persen kendali ditentukan harus di dalam internal. Tiga puluh (30) persen baru dari luar," sarannya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang