Mengapa Tommy Kembali ke Panggung Politik?

Kompas.com - 19/08/2009, 05:53 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Setelah sempat tenggelam karena pemberitaan terorisme, kancah politik nasional kembali menggeliat ketika putra bungsu mantan Presiden Soeharto, Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto, Selasa (18/8), menyatakan kesiapannya bertarung memperebutkan kursi ketua umum Partai Golkar pada Musyawarah Nasional Partai Golkar di Pekanbaru, 4-7 Oktober.

Aktivis sekaligus pengamat politik, Fadjroel Rahman, menilai, niat Tommy untuk kembali berkiprah di panggung politik bukanlah tanpa sebab. "Cendana ketakutan. Setelah SBY, siapa lagi yang akan melindungi mereka. Setelah tahun 2014, tidak ada lagi partai yang melindungi keluarga Cendana," ujar Fadjroel kepada Kompas.com, Selasa malam, di sela-sela acara peluncuran buku di Jakarta.

Dengan menjadi ketua partai, seseorang memang memiliki kesempatan yang besar untuk mencalonkan diri sebagai calon presiden. Fadjroel mengatakan, hingga saat ini upaya membongkar dugaan kasus korupsi terhadap kekayaan keluarga Cendana berjalan di tempat.

Sejak presiden kedua tersebut lengser, pemerintahan-pemerintahan berikutnya tidak ada yang berhasil menyentuh sepeser pun harta kekayaan keluarga Cendana. Padahal, mengutip laporan Stolen Assets Recovery Initiative, Fadjroel mengatakan, jumlah kekayaan Soeharto mencapai sekitar Rp 600 triliun.

Jika terpilih menjadi ketua umum, ujar Fadjroel, hal ini merupakan kemunduran bagi partai berlambang pohon beringin tersebut. Upaya Partai Golkar untuk menutupi dosa Orde Baru, yang identik dengan Soeharto, seperti pelanggaran hak asasi manusia, korupsi, kolusi, dan nepotisme, menjadi sia-sia.

Lantas, melihat bursa calon ketua, seberapa besar Tommy memenangi pertarungan memperebutkan kursi ketua umum Partai Golkar?

"Jika dia memainkan uangnya, peluangnya sangat besar. Pasalnya, Partai Golkar bukanlah partai yang mempunyai ideologi," tuntas Fadjroel. Sebelumnya, kemarin, Tommy mengatakan, "Sekarang saat yang tepat bagi saya untuk kembali ke politik, selain bisnis."

Menanggapi hal ini, calon ketua umum Yuddy Chrisnandy, yang juga Ketua DPP Bidang Organisasi, Keanggotaan, dan Kaderisasi (OKK), mengatakan, hal ini menunjukkan bahwa Partai Golkar tidak kekurangan kader-kader yang baik. Selain Yuddy, nama-nama yang turut meramaikan bursa calon ketua adalah Ketua Dewan Penasihat Surya Paloh dan anggota Dewan Penasihat, Aburizal "Ical" Bakrie.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau