ICW: Testimoni Antasari Mungkin Fitnah

Kompas.com - 19/08/2009, 10:10 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Testimoni ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) non aktif Antasari Azhar, mengenai dugaan suap yang melibatkan sejumlah petinggi KPK lemah. Pasalnya testimoni tersebut bukan berasal orang yang melakukan suap, melainkan dari pihak ketiga yang juga tidak disuap secara langsung.

"Bukti-buktinya tidak cukup kuat untuk menjerat pimpinan KPK yang lain. Bisa jadi ini fitnah," kata Emerson Yuntho, Wakil Koordinator Indonesia Corruption Watch (ICW), saat dihubungi Kompas.com, Rabu (19/8).

Seperti yang diberitakan, testimoni itu berkaitan dengan dugaan korupsi pengadaan Sistem Komunikasi Radio Terpadu di Departemen Kehutanan yang ditangani KPK.

Berdasarkan pengakuan Antasari, Direktur Utama PT. Masaro Radiokom, Anggoro Widjoyo telah menyuap dua pemimpin KPK sebesar Rp 6 miliar. Pernyataan Antasari ini didasari pengakuan Anggoro, saat dirinya bertemu dengan buron itu di Singapura. 

Menurut Emerson, pencabutan surat cekal terhadap Anggoro, yang disebut-sebut Antasari dalam testimoninya adalah palsu. "Jadi tidak ada bukti yang kuat tentang kebenaran testimoni itu," ujarnya. Kuat dugaan testimoni tersebut salah satu alat melemahkan KPK," kata dia.

Menurut Emerson, kejadian ini harus menjadi pelajaran bagi petinggi KPK lainnya. Selama lima tahun terakhir, pengawasan KPK hanya berpusat pada staff dan pegawai. Sedangkan petinggi KPK justru KPK leluasa bergerak.

ICW sendiri mencatat, paling sedikit 17 kasus bukti pelanggaran KPK yang dilakukan Antasari, antara lain pertemuan dengan pihak-pihak yang diduga menjadi tersangkan kasus korupsi. "Kinerja KPK harus Lebih baik. KPK harus menjawab Kecurigaan publik pengungkapan mengenai kasus suap yang ada," kata dia.

Lebih jauh Emerson juga mengatakan, nasib lembaga KPK berada ditangan presiden mendatang. Presiden harus memberikan dukungan kepada KPK. Tidak hanya memberikan secara komitmen tapi secara politik. Selain itu, jajaran penegak hukum yaitu, Kejaksaan dan kepolisian harus bersikap tegas pada upaya-upaya pelemahan KPK.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau