Punya Informasi soal Teroris? Lapor ke Sini!

Kompas.com - 19/08/2009, 14:02 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Hampir satu dekade aksi terorisme menghantui masyarakat Indonesia. Sejak bom Bali I pada 2002 hingga bom Mega Kuningan yang terjadi pada medio Juli lalu polisi tak henti memburu para pelaku aksi biadab ini.

Rabu (19/8) ini polisi mengumumkan empat daftar pencarian orang yang diduga terkait dalam aksi peledakan bom di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton. Selain keempat orang itu, polisi juga masih memburu gembong teroris, Noordin M Top, yang beberapa kali lolos dalam penyergapan polisi.

Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Nanan Soekarna di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (19/8), menginformasikan, masyarakat yang memiliki informasi mengenai keberadaan para teroris agar melapor ke:

1. Siaga Bareskrim  
    021-7218029
    021-7218309
    SMS 081383950059 dan 0813827398774

2. Siaga Div Humas
    021 7218421,
    SMS 081385099108 atau

3. Kepolisian setempat

Berikut empat buronan polisi yang diburu terkait peledakan bom di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton.

Syaifudin Zuhri bin Djaelani Irsyad alias Ustaz Syaifudin Zuhri alias Udin alias Sole. Ciri-ciri pria bersuku Jawa tersebut adalah tinggi badan 165 cm, bentuk kepala bulat, bentuk alis sedang, dan bentuk bibir tebal.

Terdapat ciri khusus, yaitu kantong mata berwarna hitam. Alamat terakhir pria tersebut di Perum Telaga Kahuripan, Parung, Bogor, Jawa Barat. Syaifudin Zuhri berperan sebagai perekrut pengebom bunuh diri.

DPO kedua adalah Mohamad Syahrir alias Aing. Pria kelahiran Jakarta, 25 Juli 1968, ini bersuku bangsa Sunda. Mohammad Syahrir mempunyai ciri fisik tinggi badan 165 cm, bentuk kepala bulat, warna mata hitam, bentuk alis tipis, dan bentuk bibir tipis. Pria tersebut tidak mempunyai ciri khusus.

Mohamad Syahrir memiliki paspor dengan No A. 167383. Nomor paspor tersebut masih berlaku. Pria tersebut memiliki dua alamat terakhir di Kompleks Garuda Blok C1 No 6A RT 06 RW 16, Kp Melayu Teluk Naga, Tangerang, Banten. Alamat ke dua di Jalan Giring-giring II/104 RT 09 RW 10 Sukmajaya, Depok.

Yang ketiga, Bagus Budi Pranoto alias Urwah. Pria kelahiran Kudus, 2 November 1978, ini bersuku Jawa. Urwah memiliki ciri fisik tinggi badan lebih dari 160 cm, bentuk kepala lonjong, warna mata hitam, bentuk alis tebal, bentuk bibir tebal. Ciri-ciri khusus pria tersebut memiliki tahi lalat di bawah bibir sebelah kiri dan memiliki noktah di pelipis sebelah kiri.

Urwah sempat divonis 3 tahun 6 bulan terkait kasus terorisme, yaitu menyembunyikan dr Ashari dan Noordin M Top. "Namun, sekarang yang bersangkutan sudah keluar," ujar Nanan.

DPO terakhir adalah Ario Sudarso alias Suparjo Dwi Anggoro alias Aji alias Dayat alias Mistam Husamudin. Pria tersebut memiliki dua tanggal lahir, yaitu Tegal, 22 Januari 1973, dan Kendal, 20 Maret 1973.

Ario Sudarso memiliki ciri fisik tinggi badan lebih dari 165 cm, bentuk kepala lonjong, warna mata hitam, bentuk alis tebal, dan bentuk bibir tebal. Ciri khusus pria tersebut adalah memakai kacamata.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau