Kredit Celana, Paman Ditikam

Kompas.com - 20/08/2009, 07:30 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Akibat tidak mau membayar celana yang dikredit seharga Rp 45.000, Zahrudin (35) dibunuh Jafar Sidik (27) yang terhitung paman sendiri di Kampung Angke Indah RT 03 RW 01, Kelurahan Angke, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat, Selasa (18/8) malam.

Perselisihan terjadi di rumah kontrakan, tepatnya di sebuah loteng berukuran 3 x 3 meter di dalam perkampungan padat di tepi rel, tidak jauh dari Stasiun Kereta Api Angke. ”Zahrudin ditusuk pisau beberapa kali oleh Jafar. Dia luka parah di dada kiri dan kepala. Jafar yang terhitung sebagai paman justru berusia lebih muda dari korban,” kata Yana, seorang tetangga.

Zahrudin dan Jafar tinggal berdekatan di dalam gang sempit di Kampung Angke Indah. Menurut Yana, kedua orang yang terlibat perselisihan sama-sama dilahirkan di kampung itu.

Perselisihan terjadi setelah seorang kerabat Jafar menagih uang cicilan pembelian celana. Zahrudin menolak membayar dan terjadilah cekcok mulut. Zahrudin yang merupakan saudara tiri dari ibu Jafar akhirnya didatangi pelaku.

Keributan berlangsung di tempat kontrakan Zahrudin yang merupakan bangunan papan semipermanen. Akhirnya, pembunuhan pun terjadi tanpa bisa dicegah warga sekitar pada pukul 20.30. Seusai menikam korban, Jafar melarikan diri.

Jafar ditangkap di daerah Parung, Jawa Barat, Rabu sekitar pukul 14.00. Warga yang didatangi polisi bersama-sama mencari pisau yang digunakan Jafar untuk membunuh Zahrudin.

Buruh bongkar

Dalam pantauan, lokasi kontrakan tempat pembunuhan terjadi terlihat kosong. Semasa hidup, Zahrudin yang bekerja sebagai buruh bongkar muat di sekitar Glodok, Jakarta Barat, tinggal bersama keluarga di tempat kontrakan. Jafar juga ikut kerja sebagai kuli angkut di tempat Zahrudin menjadi mandor.

Anak-anak kecil bermain di gang dekat tempat kontrakan Zahrudin. Beberapa bendera kuning dan kotak sumbangan terlihat di dekat rumah kontrakan korban. ”Saya semalam mendengar ribut-ribut. Tahu-tahu terdengar teriakan dan ketika warga datang, terlihat Zahrudin sudah rebah dan berdarah. Dia tewas waktu dibawa ke Rumah Sakit Sumber Waras,” kata Udin.

Menurut Udin, sebelum terjadi pembunuhan, Zahrudin dan Jafar sering berselisih paham. Kini, Udin yang menjadi salah satu saksi pembunuhan itu ikut pergi ke rumah sakit untuk mengurus jenazah Zahrudin hingga Rabu pukul 03.00.

Sepanjang malam hingga siang hari, warga sibuk mengurus jenazah Zahrudin yang akhirnya dimakamkan di daerah Tangerang sekitar pukul 13.00. Sebagian warga yang menjadi tetangga korban ikut mengantarkan jenazah Zahrudin hingga ke peristirahatan terakhir. Di tempat tinggal korban hanya ada beberapa ibu rumah tangga.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau