JAKARTA, KOMPAS.com — Kini saatnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk meninggalkan politik primadonanya. Kepala negara perlu menguatkan strategi kebudayaan bangsa yang saat ini belum tertata. "Kebudayaan itu menyangkut cara berpikir, cara bertindak, dan cara bereaksi," kata Direktur Yayasan Science dan Teknologi (SET) Garin Nugroho dalam dialog budaya di Jakarta, Kamis (20/8).
Menurut Garin, bangsa Indonesia masih kehilangan arah dalam berbudaya. Pemimpin Indonesia melihat budaya secara sempit dan tidak tahu bagaimana strategi kebudayaan itu. "Masak saat bom Kuningan kemarin, SBY bilang investasi ekonomi tidak terpengaruh. Padahal, 40 persen lebih investasi bangsa adalah budaya," ucapnya.
Ia menerangkan, insiden bom bunuh diri yang terus berulang, banyaknya tindak kekerasan, dan semrawutnya perilaku masyarakat di jalan menunjukkan cara berpikir, cara bertindak, dan cara bereaksi yang belum bagus. "Ada persoalan, entah ekonomi atau psikologis. Bingung. Terus (cara bertindaknya) ngebom. Cara berpikirnya tidak jalan," tuturnya.
Insiden bom dan budaya kekerasan masih terjadi, menurut Garin, karena selama ini warga negara kita masih memosisikan diri sebagai penonton. Mereka tidak dibiarkan berperan dan terus bergulat dengan persoalan etika sosial. "Setelah reformasi harusnya kita berpikir prioritas. Kita butuh nilai dan etika dalam strategi kebudayaan, karena social ethic kita bermasalah. Seperti memanam pohon, akarnya belum kuat buahnya sudah dipetik," ia menerangkan.
Untuk itu, ia berharap, pada pemerintahan yang baru nanti SBY harus membiarkan para menterinya yang menjadi primadona. Maka pilihlah menteri dari orang yang mampu untuk menjadi panduan dan kepercayaan masyarakat. "Biarlah SBY melepas politik primadona dan konsolidasinya. Kini saatnya ia menjadi sejarah bangsa Indonesia," tandas Garin Nugroho.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang