Kekerasan Sporadis Warnai Pemilu Presiden Afganistan

Kompas.com - 21/08/2009, 06:01 WIB
 

KABUL, KOMPAS.com - Ancaman kelompok Taliban tampaknya cukup berhasil memaksa pemilih untuk tidak memberikan suara, terutama di wilayah selatan dan timur Afganistan, pada pemilu presiden, Kamis (20/8). Bahkan sejumlah tempat pemungutan suara tidak didatangi seorang pemilih pun.

Seorang petugas pemilu di Kandahar, kota terbesar di selatan Afganistan, mengatakan partisipasi pemilih tampaknya turun hingga 40 persen dibandingkan dengan pemilu sebelumnya. Rendahnya partisipasi pemilih di selatan akan memperkecil peluang Presiden Hamid Karzai, yang maju lagi dalam pemilu kali ini, dan menguntungkan rival terberatnya, mantan Menteri Luar Negeri Abdullah Abdullah.

Di Provinsi Baghlan, utara Afganistan, serangan kelompok bersenjata menyebabkan 14 tempat pemungutan suara terpaksa ditutup. Di Jalalabad, timur Provinsi Nangarhar, sejumlah distrik melaporkan tidak ada seorang pemilih pun yang datang.

Kendati bermunculan laporan soal rendahnya partisipasi pemilih, otoritas pemilu menyatakan partisipasi pemilih cukup bagus. ”Partisipasi pemilih bagus,” kata Wakil Ketua Komisi Pemilu Afganistan Zekria Barakzai.

Waktu pemungutan suara diperpanjang guna mendongkrak partisipasi pemilih. Banyak pemilih yang baru datang menjelang sore. Sebanyak 17 juta pemilih berhak memberikan suara pada Pemilu Presiden 2009.

Baku tembak

Kekerasan sporadis dilaporkan terjadi di sejumlah kota di Afganistan saat pemungutan suara. Untuk menjamin keamanan, sekitar 300.000 tentara Afganistan dan tentara asing dikerahkan.

Di ibu kota terjadi setidaknya lima ledakan. Polisi Kabul terlibat baku tembak dengan sekelompok orang bersenjata dan menewaskan dua pelaku bom bunuh diri.

Di kota Old Baghlan, serangan Taliban menewaskan kepala polisi setempat dan beberapa polisi. Lebih dari 20 roket juga menghantam Lashkar Gah, ibu kota Provinsi Helmand, di selatan Afganistan dan menewaskan seorang anak. Roket juga menerjang kota Ghazni dan Kunduz.

Presiden Karzai menyerukan agar rakyatnya tidak gentar dengan ancaman kekerasan dan memberikan suara. ”Saya meminta rakyat untuk datang dan memberikan suara guna menentukan masa depan mereka,” kata Karzai seusai memberikan suara di Kabul.

Abdullah memuji ”hari perubahan” saat memberikan suara bersama istri dan putranya di Kabul. Abdullah memiliki basis dukungan di wilayah utara, di sana partisipasi pemilih dilaporkan cukup bagus dan di kalangan etnis Tajik.

Karzai lebih diunggulkan untuk menang pemilu. Akan tetapi, jajak pendapat menunjukkan perolehan Karzai tidak mencapai 50 persen, angka yang diperlukan untuk menghindari pemilu putaran kedua.

Karzai mengatakan, satu putaran pemilu sesuai dengan kepentingan nasional. Presiden berikutnya akan memimpin negara yang didera kekerasan bersenjata, perdagangan obat-obatan terlarang, korupsi, dan pemerintahan yang lemah.

”Kami ingin presiden berikutnya bisa menghentikan tewasnya warga sipil dan memberi lapangan pekerjaan bagi rakyat serta membawa perdamaian,” ujar seorang pemilih.

Hasil pemilu baru diketahui paling cepat pada hari Sabtu. (ap/afp/reuters/bbc/fro)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau