Seorang petugas pemilu di Kandahar, kota terbesar di selatan Afganistan, mengatakan partisipasi pemilih tampaknya turun hingga 40 persen dibandingkan dengan pemilu sebelumnya. Rendahnya partisipasi pemilih di selatan akan memperkecil peluang Presiden Hamid Karzai, yang maju lagi dalam pemilu kali ini, dan menguntungkan rival terberatnya, mantan Menteri Luar Negeri Abdullah Abdullah. Di Provinsi Baghlan, utara Afganistan, serangan kelompok bersenjata menyebabkan 14 tempat pemungutan suara terpaksa ditutup. Di Jalalabad, timur Provinsi Nangarhar, sejumlah distrik melaporkan tidak ada seorang pemilih pun yang datang. Kendati bermunculan laporan soal rendahnya partisipasi pemilih, otoritas pemilu menyatakan partisipasi pemilih cukup bagus. ”Partisipasi pemilih bagus,” kata Wakil Ketua Komisi Pemilu Afganistan Zekria Barakzai. Waktu pemungutan suara diperpanjang guna mendongkrak partisipasi pemilih. Banyak pemilih yang baru datang menjelang sore. Sebanyak 17 juta pemilih berhak memberikan suara pada Pemilu Presiden 2009. Kekerasan sporadis dilaporkan terjadi di sejumlah kota di Afganistan saat pemungutan suara. Untuk menjamin keamanan, sekitar 300.000 tentara Afganistan dan tentara asing dikerahkan. Di ibu kota terjadi setidaknya lima ledakan. Polisi Kabul terlibat baku tembak dengan sekelompok orang bersenjata dan menewaskan dua pelaku bom bunuh diri. Di kota Old Baghlan, serangan Taliban menewaskan kepala polisi setempat dan beberapa polisi. Lebih dari 20 roket juga menghantam Lashkar Gah, ibu kota Provinsi Helmand, di selatan Afganistan dan menewaskan seorang anak. Roket juga menerjang kota Ghazni dan Kunduz. Presiden Karzai menyerukan agar rakyatnya tidak gentar dengan ancaman kekerasan dan memberikan suara. ”Saya meminta rakyat untuk datang dan memberikan suara guna menentukan masa depan mereka,” kata Karzai seusai memberikan suara di Kabul. Abdullah memuji ”hari perubahan” saat memberikan suara bersama istri dan putranya di Kabul. Abdullah memiliki basis dukungan di wilayah utara, di sana partisipasi pemilih dilaporkan cukup bagus dan di kalangan etnis Tajik. Karzai lebih diunggulkan untuk menang pemilu. Akan tetapi, jajak pendapat menunjukkan perolehan Karzai tidak mencapai 50 persen, angka yang diperlukan untuk menghindari pemilu putaran kedua. Karzai mengatakan, satu putaran pemilu sesuai dengan kepentingan nasional. Presiden berikutnya akan memimpin negara yang didera kekerasan bersenjata, perdagangan obat-obatan terlarang, korupsi, dan pemerintahan yang lemah. ”Kami ingin presiden berikutnya bisa menghentikan tewasnya warga sipil dan memberi lapangan pekerjaan bagi rakyat serta membawa perdamaian,” ujar seorang pemilih. Hasil pemilu baru diketahui paling cepat pada hari Sabtu. (ap/afp/reuters/bbc/fro)