Trio Herba Cina Anti Flu Babi

Kompas.com - 21/08/2009, 09:47 WIB

Pemberitaan seputar swine flu influenza alias flu babi akhir-akhir ini kian menakutkan. Sudah banyak korban berjatuhan. Bila di sekitar Anda ada yang terindikasi terkena gangguan penyakit akibat virus H1N1 ini, tak ada salahnya mencoba ramuan Cina yang berasal dari kitab kuno Fang Gan Tang.

Swine influenza atau dikenal dengan nama flu babi adalah penyakit infeksi yang disebabkan virus influenza H1 N1. Penyebaran penyakityang menakutkan ini bermula di Meksiko, dan kini sudah "melalang buana" ke seluruh penjuru dunia, seperti flu burung.

Menurut Prof. Tjandra Yoga Aditama, Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan (Ditjen PPM&PL) Departemen Kesehatan RI, tanda-tanda klinis flu babi adalah demam lebih dari 39 derajat Celsius, batuk, pilek, lesu, letih, nyeri tenggorokan. Selain itu, penderitanya juga merasa sesak napas atau napas cepat, mungkin disertai mual, muntah, dan diare. Cara penularan melalui udara dan juga kontak langsung, dengan masa inkubasi 3 sampai 5 hari.

Virus H1 N1 biasanya hanya menginfeksi hewan babi. Namun, virus tersebut mengalami mutasi clan strain genetiknya berubah, yang kemudian bisa tumbuh dan hidup dalam tubuh manusia. Selanjutnya virus ini dapat menyebar baik dari babi ke manusia maupun antar manusia. Ditambahkan oleh Dr. (TCM) Budi Sugiarto Widjaja dari klinik Beijing, Jakarta Barat, secara umum flu babi mirip influenza biasa.

Membuka Pori-pori
Dalam TCM (Traditional Chinese Medicine), penyakit yang disebabkan virus H1 N1 ini dapat diobati berdasarkan gejala yang ditimbulkan dan mempertimbangkan keseimbangan yin-yang dalam tubuh pasien.

"Departemen kesehatan Cina menetapkan metode khusus dalam pengobatan mengatasi serangan flu babi ini, yakni menurunkan panas, membuka pori-pori dengan obat yang bersifat pedas, serta menghilangkan kelembaban dalam tubuh yang bisa mengakibatkan mual dan diare," ujar dokter lulusan Universitas Beijing, Cina ini.

Meningkatkan chi pada permukaan kulit (Wei Qi) dapat memperbaiki kondisi dalam tubuh pasien yang lembab, serta mencegah kondisi badan yang rapuh terhadap patogen dari luar.

Berdasarkan kitab kuno Fang dan Tang, ada dua resep untuk mengobati jenis penyakit seperti flu babi ini. "Dalam resep kuno ini tertulis, ada beberapa ramuan utama yang dapat digunakan, yakni tanaman Huang Qin, Ge Gen, Huo Xiang. Huang Qin bersifat mencegah, lainnya untuk mengobati penderita yang positif menderita virus H1 N1," paparnya.

Membuang Lembab

Tanaman Huang Qin alias Astralagus membranaceus, yang digunakan adalah bagian batangnya. Tanaman ini sifatnya dingin dan rasanya pahit. Penggunaannya untuk menurunkan panas dan membuang lembab. Herba ini berpengaruh pada meridian organ paru-paru, lambung, empedu, dan usus besar.

Ge Gen
, yang bernama Latin Pueraria spp, juga digunakan bagian batangnya. Sifatnya dingin, rasanya pedas campur manis. Cara kerja batang Ge Gen adalah membuka pori-pori, mengeluarkan patogen dari dalam tubuh, serta meningkatkan cairan.

Ge Gen biasa digunakan untuk meredakan diare. Bunganya digunakan seperti alkohol dan racun obat-obatan. Tanaman ini berpengaruh pada meridian organ limpadan lambung, juga baik digunakan untuk meredakan nyeri pada tengkuk.

Huo Xiang atau Agastache rugosa, yang diambil adalah bagian batang yang berada di atas tanah. Sifat dan rasanya agak hangat, berbau tajam. Berguna untuk menghilangkan lembab, menetralkan dehidrasi, menghilangkan rasa mual. Tanaman ini berpengaruh pada meridian organ pencernaan, lambung, dan paru-paru, tetapi dilarang digunakan bila perut terasa panas atau terjadi defisiensi panas.

Hindari Gorengan
Bila tengah mengonsumsi ketiga ramuan itu, penderita dilarang mengasup makanan berminyak alias gorengan, makanan santan, dan es, serta disarankan selalu menjaga kebersihan badan dan suhu tubuh. Bila diare, bisa diterapi dengan pemberian cairan oralit atau mengompres dengan air es.

Paket ramuan seharga Rp 25.000 ini bisa didapat di Klinik Beijing. "Tetapi, sebelum mengonsumsi ramuan tanaman obat Cina ini, ada baiknya berkonsultasi dengan dokter untuk melihat sindrom dan sifat penyakitnya terlebih dahulu," ujar Dr. Budi.

(GHS/Hendra Priantono)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau