BP Migas Diminta Tindak Lanjuti Eksplorasi Ladang Costa

Kompas.com - 21/08/2009, 17:53 WIB

MEDAN, KOMPAS.com - Pemerintah Provinsi Sumatera Utara meminta BP Migas memerintahkan pengembang ladang gas Costa di lepas pantai Selat M alaka, untuk segera melakukan eksplorasi lanjutan. Kondisi krisis gas di Sumatera Utara membuat potensi sumber daya gas yang ada seperti di ladang Costa, dibutuhkan secepat mungkin berproduksi.

Ladang gas Costa dioperasikan oleh joint operation body atau JOB Pertamina Costa International, di mana salah satu anggota JOB-nya adalah Energi Mega Persada, anak usaha Grup Bakrie. Ladang gas Costa berdekatan dengan ladang gas Glagah Kambuna yang dioperasikan oleh Salamander Energy. Gas dari ladang Glagah Kambuna telah berproduksi dan dibeli Perusahaan Listrik Negara, serta dalam waktu dekat akan dialirkan juga oleh pembeli swasta, PT Pertiwi Nusantara Resources.

Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Sumatera Utara (Sumut) Washington Tambunan mengatakan, sebenarnya JOB Pertamina Costa International telah melakukan eksplorasi awal. Namun ketidakjelasan pengembang melakukan eksplorasi lanjutan, menurut Washington membuat Pemprov Sumut berinisiatif meminta BP Migas, agar memerintahkan pengembang segera melakukan eksplorasi lanjutan ladang Costa.

Ladang gas Costa butuh eksplorasi lanjutan, mengingat cadangan gas di sana cukup menjanjikan. Berdasarkan perhitungan sementara, ladang gas Costa menyimpan gas hingga 1 TCF (trilion cubic feet). "Namun untuk sampai pada tahap produksi, pengembang harus mengebor paling tidak tiga sumur lagi. Ini yang sekarang kami minta ke BP Migas, agar memerintahkan pengembang ladang gas Costa segera melakukan eksplorasi lanjutan," ujar Washington di Medan, Jumat (21/8).

Menurut Washington, jika sudah sampai pada tahap produksi, potensi ladang gas Costa hampir sama dengan kandungan yang ada di ladang Glagah Kambuna. "Potensinya hampir sama dengan produksi gas Glagah Kambuna saat ini, sekitar 40 sampai 50 MMCFD (million metrix cubit feet per day)," katanya.

Pemprov Sumut diakui Washington ingin sesegera mungkin ladang gas yang ada di provinsi ini segera berproduksi. Setelah Salamander Energy yang secara resmi sudah mengalirkan gas dari ladang Glagah Kambuna ke PLN, pada 11 Agustus lalu, potensi gas yang paling mungkin dapat diproduksi dalam waktu dekat adalah ladang gas Costa.

General Manager PLN Pembangkitan Sumatera bagian Utara Fahmi Rizal Lubis mengaku cukup bersyukur setelah PLTGU Sicanang Belawan (935 megawatts) yang menjadi pembangkit utama di sistem listrik Sumut, kembali mendapat pasokan gas. Meski pasokan gas dari Salamander tersebut baru sebesar 28 MMCFD, jauh dari total kebutuhan gas PLN.

PLTGU Sicanang yang membutuhkan gas hingga 100 MMCFD hanya dipasok sebesar 10 MMFCD dari Pertamina EP, sehingga kebutuhan gas tersebut terpaksa diganti dengan solar yang berakibat langsung pada tingginya ongkos produksi. Kondisi ini mengakibatkan besarnya subsidi pemerintah terhadap PLN Sumut, yakni Rp 8 miliar setahun.

Menurut Washington, pemerintah daerah tak bosan menyurati pemerintah pusat dan BP Migas segera menindaklanjuti setiap cadangan gas yang ada di provinsi ini agar bisa secepatnya diproduksi. "Sumut dalam kondisi krisis gas. Kebutuhan kami untuk pembangkit listrik hingga industri mencapai 150 sampai 200 MMFCD. Tetapi yang ada saat ini baru 50 MMCFD. Kondisi inilah yang mengakibatkan banyak industri di Sumut gulung tikar. Termasuk PLN yang harus mengganti gas dengan solar agar bisa mengoperasikan pembangkit listriknya," kata Washington.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau