Ini Dia, Tiga Calon Mendiknas Versi FGII

Kompas.com - 21/08/2009, 19:07 WIB

BANDUNG, KOMPAS.com — Dewan Pimpinan Pusat Federasi Guru Independen Indonesia (FGII), berdasarkan serangkaian diskusi dan pembahasan di internal, merekomendasikan tiga kandidat calon menteri pendidikan nasional yang ideal kepada Presiden terpilih.

Ketiganya adalah Said Hamid Hasan (Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia), Soedijarto (Guru Besar Universitas Negeri Jakarta), dan Fasli Jalal (Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Depdiknas RI).

Menurut Sekretaris Jenderal FGII Iwan Hermawan dalam siaran persnya, Jumat (21/8), profil yang ideal dari mendiknas antara lain memiliki komitmen yang kuat untuk memperbaiki pendidikan, memegang teguh nilai-nilai kebudayaan bangsa, akomodatif terhadap aspirasi masyarakat, dan memiliki komitmen kebangsaan yang kuat.

"Ada baiknya, sosok mendiknas yang akan menjabat di pemerintahan yang baru berasal dari kalangan profesional atau non-partai. Saat ini merupakan momen penting untuk menghasilkan perubahan secara radikal di pendidikan. Oleh karena itu, diperlukan pakar pendidikan yang senior dan memiliki pengalaman dan komitmen serta kapasitas yang mumpuni untuk memperbaiki pendidikan," ujar Iwan.

"Kami berharap, kebijakan pendidikan tidak bersifat trial and error karena ini sama saja menjadikan murid dan guru sebagai kelinci percobaan," tambahnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau