Irak

Syiah dan Sunni Saling Tuding

Kompas.com - 22/08/2009, 03:32 WIB

Baghdad, Jumat - Para politikus berpengaruh komunitas Syiah dan kelompok perlawanan Sunni saling tuding bertanggung jawab atas serangkaian serangan bom dan roket di Baghdad Rabu lalu. Pernyataan kedua kelompok besar Muslim itu makin kencang, Jumat (21/8), padahal di kalangan masyarakat biasa, tak ada yang saling tuding karena semua menjadi korban, termasuk Kurdi.

Kalangan eksekutif dan tingkat pimpinan Syiah dan Sunni justru saling menyalahkan telah berada di balik serangan bom di kantor Departemen Luar Negeri dan Departemen Keuangan yang menewaskan 95 orang dan melukai sekitar 400 orang. Tudingan pertama datang dari Perdana Menteri Irak Nuri al-Maliki (dari Syiah), Rabu. Maliki menilai serangan beruntun di Baghdad itu ”upaya untuk mengganggu proses politik dan memengaruhi pemilu parlemen Januari 2010”.

Pernyataan Majelis Islam Irak Tertinggi, partai Syiah paling kuat dan berpengaruh sekaligus dekat dengan Iran, juga menegaskan Irak tengah menghadapi ”perang yang luas” dan bukan ”sekadar serangan bom sana-sini yang tidak jelas”. Majelis itu menuding komunitas Sunni sebagai dalang di balik serangan itu. Komunitas Sunni yang dimaksud itu adalah para pengikut setia mendiang Saddam Hussein.

”Sisa-sisa pengikut rezim Saddam Hussein melanjutkan tindak kejahatan mereka terhadap warga Irak yang tidak bersalah. Mereka juga memiliki rencana jahat mengganggu kebebasan rakyat. Serangan beruntun itu bukti nyata bahwa ada rencana yang jelas tersusun rapi untuk membunuh lebih banyak warga Irak sekaligus menghancurkan kesejahteraan Irak,” sebut pernyataan tertulis dari majelis itu.

Untuk mengantisipasi hal itu, majelis itu meminta pemerintah nasional dan PBB melindungi seluruh rakyat Irak.

Balik tuding

Sebaliknya, Tentara Islam Irak (kelompok perlawanan dari etnis Sunni) menuding Pemerintah Irak dan pasukan AS sebagai pelakunya. ”Pelakunya tak lain adalah pasukan keamanan penjajah, pemerintah, dan berbagai kelompok bersenjata dari blok-blok politik yang selama ini terlibat pertikaian sengit di antara mereka,” sebut pernyataan tertulis Tentara Islam Irak di situs mereka.

Tentara Islam Irak mengecam segala bentuk serangan yang menyasar warga sipil tidak bersalah. ”Serangkaian serangan itu jelas menunjukkan ada faksi-faksi dalam pemerintah yang menginginkan konflik sektarian,” sebut pernyataan tertulis kelompok itu.

Tentara Islam Irak itu dibentuk setelah Saddam terguling tahun 2003 dan selama ini dikenal telah menculik warga asing, memenggal kepala sandera, dan pernah bekerja sama dengan Al Qaeda sebelum tahun 2007. Serangan bom dari truk yang diparkir di tempat parkir di dalam Zona Hijau itu disebutkan ”hasil karya” kelompok seperti Al Qaeda. Namun, hingga kini belum ada satu pun kelompok yang mengklaim bertanggung jawab.

Pascaserangan itu, Kamis, Pemerintah Irak menangkap 11 polisi, tentara, dan anggota intelijen karena diduga terlibat, baik langsung maupun tidak langsung, dalam serangan itu. Kelompok Irak Nasional dan Front Patriot Islami—dua kelompok pengikut setia Saddam—menuding pemerintah sebagai satu-satunya pihak yang paling bersalah. ”Tudingan pemerintah kelompok perlawanan sebagai pelaku itu tak berdasar karena mereka justru melawan pendudukan. Partai politik dan pemerintah yang bersalah,” sebut pernyataan tertulis kedua kelompok itu. (AFP/LUK)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau