Antisipasi Gelombang Kedua Pandemi

Kompas.com - 22/08/2009, 08:32 WIB

BEIJING, KOMPAS.com — Negara-negara di dunia diimbau untuk mewaspadai kemungkinan terjadinya gelombang kedua pandemi influenza A-H1N1. Salah satu tantangan ke depan yang dihadapi semua negara di dunia adalah bagaimana membagikan vaksin penangkal virus itu.

Menurut Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Margaret Chan, Jumat (21/8), melalui video dalam simposium regional Asia Pasifik tentang flu, di Beijing, China, pemerintah negara-negara di berbagai belahan dunia harus mempersiapkan gelombang kedua kasus flu A-H1N1.

Sejauh ini, lebih dari dua lusin perusahaan farmasi di seluruh dunia berupaya memproduksi vaksin influenza A-H1N1 yang aman dan efektif. ”Kita tidak dapat menyatakan secara pasti apakah kondisi terburuk pandemi telah berakhir atau kondisi terburuk akan datang,” ujarnya.

”Kita perlu mempersiapkan apa pun kejutan dari penyebaran virus baru ini pada masa datang. Hal ini seiring dengan mutasi tanpa sengaja yang terus terjadi sebagai mekanisme untuk bertahan hidup pada mikroba di dunia,” kata Chan menambahkan.

”Kita juga perlu meningkatkan kesiapsiagaan untuk gelombang kedua atau ketiga penyebaran virus itu sebagaimana terlihat pada pandemi terakhir,” ujarnya. Menurut data terakhir WHO, sekitar 1.800 orang meninggal dunia sejak kasus penularan flu A-H1N1 pertama kali pada April lalu. Angka kematian tertinggi terjadi di negara-negara di Amerika.

WHO mendeklarasikan pandemi global pada Juni lalu dan kini lebih dari 170 negara melaporkan kasus positif influenza A-H1N1. Pada saat epidemi melemah di belahan bumi selatan, belahan bumi utara harus siap siaga seiring datangnya musim flu musiman. ”Seperti semua virus influenza, H1N1 memperoleh manfaat pada perubahan musim,” ujarnya.

Akses terhadap vaksin

Isu tentang bagaimana menjamin suplai vaksin yang aman dan efektif di seluruh dunia perlu diatasi. ”Kita butuh masukan untuk menentukan kelompok mana yang diprioritaskan mendapat perlindungan melalui pemberian vaksin,” kata Chan menegaskan.

”Ini merupakan keputusan paling sulit yang harus dibuat pemerintah berbagai negara. Seperti kita tahu, suplai vaksin amat dibatasi untuk beberapa bulan ke depan,” ujarnya. Awal pekan ini negara-negara di belahan bumi utara telah memesan lebih dari satu miliar dosis vaksin flu A-H1N1.

Perusahaan obat dari China, Sinovac Biotech, pekan ini mengumumkan data awal yang positif dari uji klinik, setelah subyek penelitian diberi satu dosis vaksin. Namun, banyak pakar menyatakan, dosis dua kali lipat diperlukan karena sebagian besar orang belum memiliki kekebalan terhadap flu A-H1N1.

Asisten Direktur Jenderal WHO Keiji Fukuda menyatakan, ”Dalam situasi ini, akses terhadap vaksin, akses pada manfaat penting lain bagi semua negara, sama penting dengan berbagi informasi soal virus,” ujarnya.

Untuk meningkatkan akses terhadap vaksin dan obat antivirus, respons WHO terhadap kemungkinan gelombang kedua kasus flu A-H1N1 akan difokuskan pada penelusuran dan pemantauan kejadian luar biasa, penyediaan informasi dan dukungan. ”Kesiapsiagaan yang dilakukan banyak negara dan organisasi dalam merespons pandemi amat berbeda-beda,” katanya.

”Hal ini menunjukkan, kita masih perlu melanjutkan kesiapsiagaan,” kata Fukuda. Ini berarti semua pemangku kepentingan perlu meningkatkan kewaspadaan, pengetahuan, dan penguatan kapasitas nasional ataupun internasional. (AFP/EVY)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau