BEIJING, KOMPAS.com — Negara-negara di dunia diimbau untuk mewaspadai kemungkinan terjadinya gelombang kedua pandemi influenza A-H1N1. Salah satu tantangan ke depan yang dihadapi semua negara di dunia adalah bagaimana membagikan vaksin penangkal virus itu.
Menurut Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Margaret Chan, Jumat (21/8), melalui video dalam simposium regional Asia Pasifik tentang flu, di Beijing, China, pemerintah negara-negara di berbagai belahan dunia harus mempersiapkan gelombang kedua kasus flu A-H1N1.
Sejauh ini, lebih dari dua lusin perusahaan farmasi di seluruh dunia berupaya memproduksi vaksin influenza A-H1N1 yang aman dan efektif. ”Kita tidak dapat menyatakan secara pasti apakah kondisi terburuk pandemi telah berakhir atau kondisi terburuk akan datang,” ujarnya.
”Kita perlu mempersiapkan apa pun kejutan dari penyebaran virus baru ini pada masa datang. Hal ini seiring dengan mutasi tanpa sengaja yang terus terjadi sebagai mekanisme untuk bertahan hidup pada mikroba di dunia,” kata Chan menambahkan.
”Kita juga perlu meningkatkan kesiapsiagaan untuk gelombang kedua atau ketiga penyebaran virus itu sebagaimana terlihat pada pandemi terakhir,” ujarnya. Menurut data terakhir WHO, sekitar 1.800 orang meninggal dunia sejak kasus penularan flu A-H1N1 pertama kali pada April lalu. Angka kematian tertinggi terjadi di negara-negara di Amerika.
WHO mendeklarasikan pandemi global pada Juni lalu dan kini lebih dari 170 negara melaporkan kasus positif influenza A-H1N1. Pada saat epidemi melemah di belahan bumi selatan, belahan bumi utara harus siap siaga seiring datangnya musim flu musiman. ”Seperti semua virus influenza, H1N1 memperoleh manfaat pada perubahan musim,” ujarnya.
Akses terhadap vaksin
Isu tentang bagaimana menjamin suplai vaksin yang aman dan efektif di seluruh dunia perlu diatasi. ”Kita butuh masukan untuk menentukan kelompok mana yang diprioritaskan mendapat perlindungan melalui pemberian vaksin,” kata Chan menegaskan.
”Ini merupakan keputusan paling sulit yang harus dibuat pemerintah berbagai negara. Seperti kita tahu, suplai vaksin amat dibatasi untuk beberapa bulan ke depan,” ujarnya. Awal pekan ini negara-negara di belahan bumi utara telah memesan lebih dari satu miliar dosis vaksin flu A-H1N1.
Perusahaan obat dari China, Sinovac Biotech, pekan ini mengumumkan data awal yang positif dari uji klinik, setelah subyek penelitian diberi satu dosis vaksin. Namun, banyak pakar menyatakan, dosis dua kali lipat diperlukan karena sebagian besar orang belum memiliki kekebalan terhadap flu A-H1N1.
Asisten Direktur Jenderal WHO Keiji Fukuda menyatakan, ”Dalam situasi ini, akses terhadap vaksin, akses pada manfaat penting lain bagi semua negara, sama penting dengan berbagi informasi soal virus,” ujarnya.
Untuk meningkatkan akses terhadap vaksin dan obat antivirus, respons WHO terhadap kemungkinan gelombang kedua kasus flu A-H1N1 akan difokuskan pada penelusuran dan pemantauan kejadian luar biasa, penyediaan informasi dan dukungan. ”Kesiapsiagaan yang dilakukan banyak negara dan organisasi dalam merespons pandemi amat berbeda-beda,” katanya.
”Hal ini menunjukkan, kita masih perlu melanjutkan kesiapsiagaan,” kata Fukuda. Ini berarti semua pemangku kepentingan perlu meningkatkan kewaspadaan, pengetahuan, dan penguatan kapasitas nasional ataupun internasional. (AFP/EVY)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang