SEMARANG, KOMPAS - Petani di Desa Bumirejo, Kecamatan Karangawen, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, yang memanfaatkan lahan di musim kering dengan menanam tembakau merugi karena tembakau mereka kekurangan air dan terserang hama cabuk. Padahal, sebelumnya, panen padi dan jagung juga diserang hama tikus.
"Menanam tembakau ini merupakan satu-satunya harapan kami untuk mendapat keuntungan karena sebelumnya hasil panen kami diserang hama tikus," kata Toyipur (28), salah seorang petani di Demak, Sabtu (22/8).
Di musim kering, petani di desa itu memilih menanam tembakau karena tanaman itu tidak membutuhkan banyak air. Namun, karena saluran irigasi sama sekali tidak teraliri air dan tidak terjadi hujan, tembakau mereka kekurangan air.
Dampaknya, tanaman tembakau tumbuh tidak maksimal. Toyipur menyebutkan, tembakau yang tumbuh tinggi dapat dipanen hingga 10 kali, tetapi karena pendek, hanya dapat dipanen maksimal tiga kali.
Padahal, biaya yang dikeluarkan untuk membeli bibit tembakau dan pupuk lebih besar. Harga bibit tembakau saat ini Rp 40.000 per 1.000 buah, padahal sebelumnya hanya Rp 10.000. Petani pun terpaksa menggunakan pupuk non subsidi karena pupuk bersubsidi langka di pasaran.
Belum lagi serangan hama cabuk (white fly) pada tanaman tembakau. Akibatnya, tanaman yang baru saja tumbuh, seketika mati.
Saat ini harga tembakau yang sudah kering Rp 17.000 per kilogram. Harga itu memang menggiurkan, tetapi petani tidak mampu memproduksi banyak karena kendala tersebut. Untuk lahan seluas 6.000 meter persegi, setidaknya dapat dihasilkan 1-2 kuintal tembakau. Padahal, biaya sewa lahan mencapai Rp 1,5 juta.
"Kalau hasilnya normal, keuntungan kami bisa lumayan. Tetapi kalau seperti ini bisa jadi kami tidak mendapat keuntungan. Pendapatan habis untuk sewa lahan dan biaya perawatan," kata Toyipur.
Solimah (60) juga mengalami hal serupa. Ia memilih menjual daun tembakau sebelum dirajang dan dikeringkan. Harganya berkisar Rp 1.500-Rp 2.000 per kilogram. Menurut dia, untuk menjual tembakau kering biaya yang dibutuhkan justru lebih besar karena harus mengupah pekerja.
Di musim kering, pemerintah provinsi Jawa Tengah mengimbau petani untuk tidak menanam tanaman yang membutuhkan banyak air. Akibat kekeringan, seluas 6.308,5 hektar lahan pertanian di Jateng terkena kekeringan dan 1.835 hektar lahan puso atau gagal panen.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang