Kekurangan Air dan Terserang Hama, Petani Merugi

Kompas.com - 22/08/2009, 18:57 WIB

SEMARANG, KOMPAS - Petani di Desa Bumirejo, Kecamatan Karangawen, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, yang memanfaatkan lahan di musim kering dengan menanam tembakau merugi karena tembakau mereka kekurangan air dan terserang hama cabuk. Padahal, sebelumnya, panen padi dan jagung juga diserang hama tikus.

"Menanam tembakau ini merupakan satu-satunya harapan kami untuk mendapat keuntungan karena sebelumnya hasil panen kami diserang hama tikus," kata Toyipur (28), salah seorang petani di Demak, Sabtu (22/8).

Di musim kering, petani di desa itu memilih menanam tembakau karena tanaman itu tidak membutuhkan banyak air. Namun, karena saluran irigasi sama sekali tidak teraliri air dan tidak terjadi hujan, tembakau mereka kekurangan air.

Dampaknya, tanaman tembakau tumbuh tidak maksimal. Toyipur menyebutkan, tembakau yang tumbuh tinggi dapat dipanen hingga 10 kali, tetapi karena pendek, hanya dapat dipanen maksimal tiga kali.

Padahal, biaya yang dikeluarkan untuk membeli bibit tembakau dan pupuk lebih besar. Harga bibit tembakau saat ini Rp 40.000 per 1.000 buah, padahal sebelumnya hanya Rp 10.000. Petani pun terpaksa menggunakan pupuk non subsidi karena pupuk bersubsidi langka di pasaran.

Belum lagi serangan hama cabuk (white fly) pada tanaman tembakau. Akibatnya, tanaman yang baru saja tumbuh, seketika mati.

Saat ini harga tembakau yang sudah kering Rp 17.000 per kilogram. Harga itu memang menggiurkan, tetapi petani tidak mampu memproduksi banyak karena kendala tersebut. Untuk lahan seluas 6.000 meter persegi, setidaknya dapat dihasilkan 1-2 kuintal tembakau. Padahal, biaya sewa lahan mencapai Rp 1,5 juta.

"Kalau hasilnya normal, keuntungan kami bisa lumayan. Tetapi kalau seperti ini bisa jadi kami tidak mendapat keuntungan. Pendapatan habis untuk sewa lahan dan biaya perawatan," kata Toyipur.

Solimah (60) juga mengalami hal serupa. Ia memilih menjual daun tembakau sebelum dirajang dan dikeringkan. Harganya berkisar Rp 1.500-Rp 2.000 per kilogram. Menurut dia, untuk menjual tembakau kering biaya yang dibutuhkan justru lebih besar karena harus mengupah pekerja.

Di musim kering, pemerintah provinsi Jawa Tengah mengimbau petani untuk tidak menanam tanaman yang membutuhkan banyak air. Akibat kekeringan, seluas 6.308,5 hektar lahan pertanian di Jateng terkena kekeringan dan 1.835 hektar lahan puso atau gagal panen.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau