Banyak Besi Pengikat Pemisah Jalur Hilang

Kompas.com - 23/08/2009, 05:39 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Infrastruktur pemisah jalur bus transjakarta rusak di semua delapan koridor. Sebagian pemisah jalur dan besi pengikatnya hilang dicuri orang.

Keadaan seperti itu lebih memprihatinkan lagi di dua koridor yang belum dioperasikan, yakni Koridor IX (Pinangranti- Pluit) dan Koridor X (Cililitan- Tanjung Priok).

Pemisah jalur bus transjakarta semuanya terbuat dari bahan cor semen dan pasir. Pada umumnya, pemisah jalur itu rusak, bahkan hilang dari tempatnya. Di Koridor VIII (Lebakbulus-Harmoni), misalnya, kondisi tersebut terlihat di ruas antara Pondok Indah Mall, Permata Hijau, dan Pos Pengumben di Jalan Panjang, Kelapa Dua, Kebon Jeruk.

Di sepanjang ruas jalan tersebut, terutama antara Pondok Indah Mall dan Permata Hijau yang berjarak sekitar 3 kilometer, tinggal besi pengikat pemisah jalur yang masih terlihat di bekas dudukan pemisah jalur. Sekalipun demikian, di beberapa tempat lain di ruas yang sama, besi pengikatnya juga sudah dicongkel atau hilang.

Kondisi yang lebih buruk terlihat di Koridor IX dan X. Di Koridor IX, misalnya, terlihat di sekitar kawasan Slipi. Di Koridor X tampak antara Cempaka Putih dan Tanjung Priok, yang berjarak sekitar 3 kilometer. Sebagian besar pemisah jalur dan besi pengikatnya, terutama di lajur kantor Wali Kota Jakarta Utara-Sunter, raib tidak berbekas lagi.

Padahal, untuk membangun infrastruktur Koridor VII, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah menghabiskan dana sekitar Rp 103,5 miliar. Adapun untuk Koridor IX dana yang telah dikeluarkan sekitar Rp 135,7 miliar dan Koridor X sekitar Rp 102,7 miliar. Jika semua rusak dan hilang dicuri, transjakarta akan semakin merana tanpa infrastruktur yang memadai.

Wakil Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Riza Hashim dan Kepala Tata Usaha Badan Layanan Umum Transjakarta Anton Parura dalam percakapan dengan Kompas di sela-sela kampanye simpatik sterilisasi jalur bus transjakarta di Perintis Kemerdekaan mengakui adanya masalah tersebut. Mereka mengatakan, kalau ada besi pengikat pemisah jalur yang hilang, hal itu karena dicongkel dengan sengaja oleh petugasnya dan hanya sebagian kecil dicuri orang.

Petugas terpaksa mencongkelnya karena banyak pengaduan dari pelintas terkait dengan keselamatan dan kenyamanan dalam berkendara. Kalau besi-besi pengikat dibiarkan meranggas setelah pemisah jalurnya hilang, hal itu akan merobek roda kendaraan dan bisa membahayakan keselamatan pengendara.

Dia juga mengatakan soal pemisah jalur yang rusak. Karena banyak yang dilindas kendaraan berat, pemisah jalur hasil cor- coran semen dan pasir itu menjadi cepat rusak. Oleh karena itu, saat ini sedang dilakukan evaluasi. Kemungkinan seluruh pemisah jalur akan diusahakan dibuat lebih tinggi lagi dan tidak terbuat dari cor-coran semen, tetapi dari karet.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau