JAKARTA, KOMPAS.com — Kehadiran China, terutama dalam dunia ekonomi-bisnis, sudah diakui di dunia internasional. Begitu pula di Indonesia. Namun, untuk mengangkat budaya Mandarin dan memasyarakatkannya tidaklah mudah. Padahal, semenjak Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menjadi presiden, Pemerintah Indonesia semakin terbuka dengan budaya dari "Negeri Tirai Bambu" ini.
"Di sekolah saya ada pelajaran bahasa Mandarin. Cuma teman-teman tidak mengangapnya penting. Pake ngedumel dulu kalau pelajaran," kata Cindy Guinata (16), siswi kelas II Sekolah Kristen Yusuf, kepada Kompas.com di Universitas Bina Nusantara, Jakarta, Minggu (23/8).
Di universitas yang 60 persen mahasiswanya keturunan Tionghoa itu, Cindy menjadi peserta National Mandarin Competition 2009 untuk lomba bercerita dalam bahasa Mandarin. Lomba sendiri diadakan oleh unit kegiatan mahasiswa Bina Nusantara Mandarin Club (BNMC).
Menurut Cindy, di sekolahnya yang terletak di Jembatan Dua, Jakarta Utara, siswa-siswi yang merupakan keturunan Tionghoa mencapai 90 persen. Pelajaran Bahasa Mandarin-nya empat jam seminggu. Pada saat ia duduk di bangku SMP, yakni di SMP Darma Satria, Teluk Gong, Jakarta Utara, mayoritas siswanya juga keturunan Tionghoa.
"Sekalipun demikian, minat terhadap Bahasa Mandirin tidak banyak. Seminggunya dua jam mata pelajaran," kata anak pertama dari pasangan Ingho (45) dan Norlely (43).
Tidak hanya teman-teman, orangtua Cindy yang tinggal di daerah Teluk Gong juga kurang mendorongnya untuk memperdalam Bahasa Mandarin. "Mama menganggap lebih penting Bahasa Inggris daripada Mandarin. Untuk belajar Inggris mesti ditegur dulu sama mama, tapi kalau Mandarin enggak usah disuruh," ucapnya sambil tertawa.
Awalnya dari "nonton"
Ketertarikan Cindy terhadap Bahasa Mandarin tidaklah disengaja. Mulanya, sejak duduk di kelas II SD, di televisi rumahnya hanya ada Chanel Taiwan. Karena Norhaini (67), neneknya, hannya bisa bahasa Hokian, bahasa China kuno.
"Anggota keluarga juga komunikasinya pakai bahasa Hokian. Jadi, mau tidak mau ya nonton kartun berbahasa Mandarin dan ndengerin Hokian," kata Cindy, yang saat lomba membawakan kisah gempa di Nias.
Bermula dari keterpaksaan, Cindy mulai mencintai dan mendalami Bahasa Mandarin. Ia aktif belajar di sekolah dan juga tempat les. Buku-buku yang berkaitan dengan Bahasa Mandarin juga ia beli. "Perlombaan pun saya ikuti. Sebelum ini saya pernah ikut lomba serupa pada tahun lalu yang diadakan Binus juga. Waktu itu juara tiga," tutur gadis penggemar kelompok musik Taiwan, Five Five Six Six itu.
Ia mengaku, untuk menguasai Bahasa Mandarin tidak terlalu sulit. Kalau dasarnya, seperti konsonan dan vokal serta nadanya, sudah dikuasai, selanjutnya enak. "Karena satu huruf saja memiliki empat nada, dengan arti yang berbeda-beda," ucapnya.
Untuk itu ia berpesan, supaya generasi muda untuk tidak segan mengenal lebih dalam budaya China secara umum dan Bahasa Mandarin secara khusus. "Seperti tari, kalau gerakannya dapat, sudah enak kok. Ayo kita cintai budaya," tandas Cindy yang bercita-cita menjadi wanita karier sukses.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang