JAKARTA, KOMPAS.com - Setelah gagal melakukan negosiasi dengan manajemen Arema Malang, mantan Pelatih Timnas Indonesia di Piala Asia 2003 dan 2007 Ivan Venkov Kolev, tetap berniat melatih sebuah klub di Indonesia. Keputusan Kolev ngotot melatih di Indonesia diakui oleh penghubung Kolev di Jakarata, Rayana Djakasurya, yang mengatakan bahwa gagalnya Kolev berlabuh di Arema lantaran kesalahan teknis semata.
"Kolev sudah memutuskan mengakhiri kerjanya menukangi timnas U-23 Bulgaria. Begitu ingin terbang ke Malang, pesawat dari Eropa tidak ada yang menyisakan kursi pada sekitar pertengahan bulan Agustus lalu. Padahal itu sudah perjanjian dengan manajemen Arema," ungkapnya ditemui di Gelora Bung Karno, Senin (24/8).
Dikatakan, karena tidak mendapat kursi pesawat yang akan membawanya ke Asia, maka Kolev akhirnya batal memenuhi jadwal yang sudah disepakati oleh manajemen Arema. Akhirnya manajemen Arema memilih seorang pelatih asal Belanda.
"Meski Kolev batal menukangi Arema, Kolev tetap ingin melatih di Indonesia, bahkan kalau manajemen Persija Jakarta atau Persitara Jakarta Utara ingin mengintrak Kolev, saya siap saja menghadirkan Kolev ke Jakarta," jelasnya.
Sama seperti yang ditawarkan kepada manejemen Arema, Kolev diakui Rayana, tetap memasang bandrol Rp 750 juta untuk satu musim kompetisi. "Saya rasa harga ini jauh di bawah standar seorang pelatih yang sekelas Kolev," ungkapnya.
Menurutnya, Kolev semata-mata tidak saja menjadi pelatih, namun ia bisa bisa melihat dan menciptakan seorang pemain sepak bola menjadi pemain bintang.
"Lihat saja, para pemain Persipura di awal tahun 2007 sebelum Kolev dipanggil ke Timnas, seluruh pemainnya sebagian besar saat ini menjadi pemain andal, itu semua karena gemblengan dari Ivan Kolev," jelasnya.
Kolev diakui Rayana tahu betul tipikal seorang pemain sepak bola yang memiliki prospek yang cerah. "Pemain sepakbola itu tidak hanya sekedar mahir menendang dan memainkan bola, tetapi harus lebih dari itu, ia harus memiliki jiwa profesionalisme, dan Kolev tahu sekali mengenai hal itu jika nantinya diberikan wewenang memilih pemain," paparnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang