BENGKULU, KOMPAS.com — Empat orang perwakilan masyarakat Pulau Enggano dipimpin Koordinator Kepala Suku, Rafli Zen Kaitora, Senin (24/8), mendatangi Kantor Dinas Perhubungan Provinsi Bengkulu untuk meminta sarana transportasi pengangkut BBM ke pulau itu.
"Sudah dua bulan BBM langka di Enggano, dampaknya sangat parah, penerangan saat tarawih tidak ada, anak-anak tidak bisa ke sekolah," kata Rafli di hadapan Kadis Perhubungan Provinsi Bengkulu, Ali Berti.
Untuk penerangan tarawih, kata Rafli, masyarakat terpaksa membakar ban di depan masjid sehingga cahayanya masuk ke dalam masjid, sedangkan anak sekolah khususnya SMU terpaksa meliburkan diri karena tidak ada BBM untuk kendaraan roda dua. "Jarak tempuh SMU dengan desa-desa lumayan jauh, BBM kosong membuat mereka terpaksa libur," katanya.
Masyarakat berharap Dishub menambah jadwal pelayaran kapal perintis untuk mengangkut BBM ke salah satu pulau terluar Indonesia yang berjarak 90 mil dari Kota Bengkulu itu.
Selama ini angkutan BBM ke Pulau Enggano menggunakan kapal milik Feri Raja Enggano. Kapal inilah yang memasok kebutuhan BBM sekitar 2.500 jiwa warga Pulau Enggano. Kebutuhan BBM untuk masyarakat Pulau Enggano sebanyak 15.000 liter per bulan dengan rincian 5.000 liter bensin, 5.000 liter solar, dan 5.000 liter minyak tanah.
Kapal milik ASDP ini mengikat kontrak dengan Koperasi Serba Usaha untuk menyalurkan BBM ke Pulau Enggano. Namun, sejak 17 Agustus lalu kapal ini menjalani perawatan rutin (docking) di Jakarta sehingga pasokan BBM terhambat.
"Pasokan BBM terakhir ke Enggano tanggal 28 Juni lalu, dan saat ini sudah langka," katanya.
Menanggapi keluhan masyarakat Enggano ini, Kadis Perhubungan Ali Berti mengatakan akan segera berkoordinasi dengan pihak syahbandar untuk menambah jadwal pelayaran kapal perintis ke Pulau Enggano.
"Akan kami usahakan untuk menambah jadwal dari biasanya sepuluh hari sekali, untuk mengangkut BBM akan ditambah jadwalnya menjadi dua kali," katanya.