45 Warga Temanggung Meninggal Akibat HIV/AIDS

Kompas.com - 24/08/2009, 19:16 WIB

TEMANGGUNG, KOMPAS.com - Sebanyak 45 warga Kabupaten Temanggung meninggal akibat HIV/AIDS. Ini jumlah kumulatif penderita yang meninggal sejak kasus HIV/AIDS pertama kali ditemukan di Kabupaten Temanggung, sejak tahun 1997 hingga sekarang.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Temanggung, Edi Rakhmatto mengatakan, kebanyakan dari mereka hanya dapat bertahan hidup selama satu tahun. "Sebab, ketika pertama kali memeriksakan diri, kebanyakan dari mereka sudah langsung terdeteksi mengidap AIDS dan bukan sekadar HIV positif," ujarnya, Senin (24/8). Padahal, rata-rata dari 45 orang tersebut juga sudah menjalani perawatan intensif dan rutin mengonsumsi obat antiretroviral (ARV).

Mereka yang baru terdeteksi HIV positif, dan akhirnya menjalani perawatan medis intensif, biasanya dapat bertahan hidup tiga hingga lima tahun.

Hingga sekarang, Edi mengatakan, ARV belum tersedia di Kabupaten Temanggung. Tapi penderita biasa mendapatkan suplai obat tersebut dari bantuan kelompok sebaya, kelompok pendamping penderita HIV/AIDS.

Dari 45 orang tersebut, dua diantaranya adalah anak balita. Sebanyak 43 penderita lainnya adalah warga dewasa yang berada dalam kelompok usia produktif 20-30 tahun.

Terhitung sejak tahun 1997 hingga sekarang, total jumlah kasus HIV/AIDS di Kabupaten Temanggung terdata 93 kasus. Dari angka tersebut, jumlah penderita HIV/AIDS baru yang terdata tahun ini mencapai 21 orang.

Saat ini, jumlah penderita usia balita yang masih hidup, terdata tiga orang, dan termuda diantaranya berusia 11 bulan. Ketiga pende rita ini terinfeksi HIV/AIDS dari orangtuanya, sejak masih dalam kandungan.

Saat ini, Kabupaten Temanggung menjadi daerah dengan jumlah penderita HIV/AIDS kedelapan terbanyak di Jawa Tengah. Sumber penularan dari penyakit ini adalah pemakaian narkoba suntik, dan hubungan seks berganti-ganti pasangan.

Petugas Teknis Unit Tranf usi Darah Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Temanggung Sri Sukesi mengatakan, khusus pada tahun ini, pihaknya belum menemukan kantong darah yang terinfeksi HIV/AIDS.

"Sejak Januari hingga Agustus ini, kami hanya menemukan kantong darah yang terinfeksi hepatitis B saja," ujarnya. Jumlah kantong darah yang terinfeksi hepatitis B mencapai lima hingga enam kantong darah per bulan.

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau