PLN Serius Minati Gas Donggi Senoro

Kompas.com - 25/08/2009, 22:07 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — PT PLN (Persero) rupanya tidak main-main menyatakan keseriusannya membeli gas dari lapangan Matindok dan Senoro-Toili milik PT Pertamina (Persero) dan PT Medco Energi Internasional Tbk.

Direktur Utama PLN Fahmi Mochtar menyebutkan, saat ini perseroan masih kekurangan asupan gas untuk menghidupkan pembangkit listrik miliknya. "Kebutuhan kita lebih besar daripada yang tersedia. Adanya Donggi Senoro ini menjadi potensi besar bagi kita," ujar Fahmi, Selasa (25/8).

Namun, persoalannya saat ini adalah apakah PLN akan membeli dalam bentuk gas alam cair (LNG) atau memanfaatkannya sebagai gas alam biasa dengan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) di sekitar lapangan Matindok dan Senoro-Toili.

"Karena kalau kita beli gas yang dipadatkan sebagai LNG, lalu diproses menjadi gas lagi maka harganya hampir mendekati bahan bakar minyak (BBM). Kalau seperti itu kurang ekonomis bagi PLN. Karena itu saya kira lebih baik bagi PLN untuk memanfaatkan gas langsung di lokasi tersebut," ujarnya.

Dengan memanfaatkan gas langsung dari sumur tanpa diubah menjadi LNG, Fahmi berharap harganya tidak sampai 6,16 dollar AS per MMBTU seperti yang diinginkan konsorsium ketika membuat kesepakatan dengan pembeli Jepang.

Menurut Fahmi, sebuah PLTGU memungkinkan untuk dibangun di sekitar lokasi lapangan gas. Untuk memasok kebutuhan listrik di daerah Sulawesi yang memang saat ini kekurangan pasokan listrik.

"Kapasitasnya tergantung volume yang dikirimkan ke sana. Karena peminat gas ini kan bukan hanya PLN, tetapi ada PGN, dan pupuk. Kalaupun diambil seluruhnya oleh PLN, jumlahnya sekitar 200 MMSCFD yang identik dengan pembangkitan 800 MW. Tapi itu terlalu besar bagi PLN. Paling kami hanya mencari gas untuk membangkitkan 100 MW saja atau 25 MMSCFD," katanya.

Saat ini, ujarnya, PLN berharap BP Migas dapat melakukan evaluasi atas harga gas yang ideal untuk proyek tersebut. Menurut Fahmi, dalam membeli gas dari PT PGN (Persero) Tbk, PLN selalu menggunakan harga yang ditetapkan oleh BP Migas.

"Kita tinggal melihat berapa harga yang ditetapkan oleh BP Migas. Saat ini harga tertinggi gas yang kita beli dari PGN adalah 5,6 dollar AS per MMBTU untuk PLTGU Muara Karang. Kalau memang angka 6,16 dollar AS itu dianggap wajar, kenapa tidak. Karena sebenarnya angka itu lebih rendah dari harga BBM yang ekuivalen dengan 15 dollar AS," jelasnya. (Gentur Putro Jati/Kontan)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau