Mohamad Jibril Masih Meminta Uang kepada Orangtua

Kompas.com - 26/08/2009, 11:23 WIB

TANGERANG, KOMPAS.com — Mohamad Jibril alias Muhamad Ricky Ardhan yang ditangkap karena diduga terkait kegiatan terorisme sampai saat ini masih sering minta uang kepada orangtuanya. Karena itu, ayahnya, Abu Jibril, merasa heran kalau anaknya ditangkap dengan tuduhan sebagai penyandang dana bom Hotel Ritz-Carlton dan JW Marriott.

"Aneh kalau dituduh menyandang dana bom. Beli bensin saja masih susah. Masih suka minta duit," kata Abu Jibril dalam konfrensi pers yang dia gelar di Masjid Al Manawarrah, Pamulang, Tangerang, Rabu (26/8) pagi ini.

Ia menuturkan, anak pertamanya itu mempunyai pekerjaan sebagai Direktur Arrahman.com, tetapi masih sering meminta uang untuk membeli makanan dan transportasi.

Haryadi Nasution, salah satu anggota tim kuasa hukum Mohamad Jibril, juga berpendapat sama. Dikatakannya, dalam pengurusan sejumlah surat Arrhamah.com sering terhambat karena kekurangan dana.

"Pengurusan surat seperti SIUP dan NPWP saja kurang lancar karena kurang dana. Tidak mungkin dia sebagai penyandang dana," ujarnya.

Pihak kepolisian kemarin menangkap Mohamad Jibril alias Muhamad Ricky Ardhan. Ia dituduh sebagai penyandang dana pada peledakan bom JW Marriott dan Ritz-Carlton.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau