Mutiara di Ujung Timur (1): Jejak Perang Dunia di Hollandia

Kompas.com - 26/08/2009, 12:17 WIB

Kornelis Kewa Ama

Wilayah Papua di ujung timur Indonesia memiliki keunikan dan daya tarik tersendiri. Ada wisata bahari dengan keindahan taman laut, wisata budaya, sejarah, fauna, dan flora. Sayang, semuanya belum digarap secara profesional. Semuanya masih alamiah dan penduduk di wilayah pedalaman masih terkesan sangat primitif.

Jayapura

Sampai tahun 1962 Jayapura disebut Hollandia, kemudian berubah menjadi Kota Baru, Soekarnoputra, dan akhirnya Jayapura. Di sana terdapat sebuah museum yang menyediakan seluruh budaya di Papua seperti ukiran dari berbagai kabupaten, alat perang, alat pertanian tradisional, perahu adat, tenunan adat, tarian, alat dapur nenek moyang dari batu dan kayu, ritus-ritus, dan peninggalan purbakala.

Terdapat pula tugu Jenderal Douglas McArthur peninggalan Perang Dunia II di Sentani. Tentara sekutu pada tahun 1942 telah menjadikan Jayapura sebagai basis kekuatan tentara di Pasifik Selatan melawan Jepang yang bermarkas di Biak. Jayapura pada masa Perang Dunia II menjadi pusat kegiatan intelijen tentara Sekutu.

Di sebelah utara monumen McArthur, pada ketinggian 325 meter terdapat dataran Pegunungan Cyclops dengan puncak Gunung Dofonsoro.  Daerah ini sangat indah dan menjadi pangkalan pertahanan McArthur.

Dari puncak Cyclops dapat dipantau Danau Sentani dengan air yang bening biru. Danau seluas 9.670 hektar sebagai tempat mata pencarian penduduk Sentani dan sekitarnya.  Danau itu dijadikan tempat rekreasi, memancing dan berlayar santai.

Selain itu, ada juga monumen peringatan pendaratan tentara Sekutu pertama  22 April 1944 di Pantai Hamadi, dipimpin Jenderal Douglas McArthur.  Di Taman Imbi, terdapat monumen peringatan Komodor Yos Sudarso yang  gugur di Laut Aru melawan tentara Belanda.

Ditemukan pula Pantai Base G dengan pasir putih terhampar luas dan laut yang tembus sinar Matahari sampai ke dasar. Base G adalah pusat logistik tentara Sekutu.

Taman buaya ditemukan di Entrop, lima kilometer dari Kota Jayapura. Di taman itu ditemukan sekitar 25.000 ekor buaya Irian.

Sementara di Teluk Yotefa terdapat tiga kampung tua yang disebut Engros, Tobati, dan Nafri.  Dari tiga kampung ini dijumpai adat dan tradisi tua yang sangat khas seperti pemilihan ketua adat,  adat perkawinan, dan adat membangun rumah.

Di Danau Sentani terdapat gelanggang remaja untuk rekreasi, mancing ikan, olahraga, dan lomba dayung perahu tradisional. Di danau ini biasanya digelar upacara-upacara adat menjelang pernikahan dan setelah kematian.


(Bersambung)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau