Edward Kennedy Meninggal karena Tumor Otak

Kompas.com - 26/08/2009, 13:53 WIB

HYANNIS PORT, KOMPAS.com — Senator Massachusetts, AS, Edward M Kennedy, meninggal dunia pada usia 77 tahun setelah berjuang melawan tumor otak.

Keluarga Kennedy mengumumkan kematiannya dalam pernyataan singkat, Rabu (26/8) dini hari waktu AS.

Selama hampir setengah abad di Senat, adik kandung mendiang Presiden John F Kennedy itu getol memperjuangkan masalah kesehatan, hak sipil, perang, perdamaian, dan lainnya. Di mata rakyat AS, dia adalah sosok paling terkenal dari keluarga Kennedy yang masih hidup.

Edward Kennedy terpilih menjadi anggota Senat pada 1962 ketika kakaknya John F Kennedy, menjadi presiden. Dia menjadi Senator terlama ketiga dalam sejarah politik AS.

Edward Kennedy juga pernah berusaha menjadi presiden AS. Namun, upayanya kandas pada 1969 ketika dia terlibat skandal yang dikenal sebagai Chappaquiddick, sebuah kecelakaan mobil yang menewaskan seoang wanita muda. Kennedy yang akrab dipanggil Ted mengakhiri ambisinya menjadi presiden pada 1980 dalam sebuah pidato perpisahan yang menyentuh hati.

Edward Kennedy diketahui mengidap tumor otak pada Mei 2008. Ia kemudian menjalani operasi dan kemoterapi.  Dalam wawancara baru-baru ini dengan Associated Press, putra Edward Kennedy, anggota Kongres Demokrat Patrick Kennedy, mengatakan ayahnya tidak gentar dengan vonis dokter yang menyebut hidupnya tak akan bertahan sampai setahun. Faktanya, ia mampu bertahan lebih setahun sampai akhirnya meninggal dunia kemarin.

Edward Kennedy adalah saudara dari Presiden John F. Kennedy, yang dibunuh pada tahun 1963. Senator Robert Kennedy, juga tewas ditembak dalam kampanye yang dilakukan pada 1968 untuk nominasi presiden dari Partai Demokrat. Saudaranya yang lain, Joe Kennedy, seorang pilot, tewas semasa Perang Dunia II.

Edward Kennedy meninggal hanya beberapa pekan setelah saudara perempuannya, Eunice Kennedy Shriver,  pendiri Olimpiade orang-orang Khusus dan penasehat terkemuka bagi orang-orang cacat mental juga tutup usia.

"Tampaknya sudah tidak ada lagi yang mengambil alih obor," kata Thomas Whalen, profesor politik pada Universitas Boston.  "Tampaknya tak ada lagi seorang pun dari generasi mendatang keluarga Kennedy yang bisa melanjutkan mengambil peran. Ted Kennedy mungkin garis yang terakhir," kata pengarang buku "Kennedy versus Lodge: The 1952 Massachusetts Senate Race" yang berkisah tentang abangnya, John, saat pertama kali berjuang untuk merebut kursi senat.

Beberapa Kennedy muda ada yang bergiat di bidang politik, tapi tak ada seorang pun yang berkemampuan seperti Ted Kennedy, tokoh terakhir dari empat Kennedy bersaudara itu. Keponakan Kennedy, Joseph, putra tertua Robert Kennedy sering disebut-sebut sebagai calon pengganti mereka. Namun, itu masih perlu dibuktikan.
 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau