Inilah Alasan Lorenzo Tetap Pilih Yamaha

Kompas.com - 26/08/2009, 17:33 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Jorge Lorenzo mengungkapkan alasan, mengapa dia bersedia menandatangani perpanjangan kontrak berdurasi satu tahun dengan Fiat Yamaha. Menurut pebalap Spanyol tersebut, selain karena loyal, dia juga mengakui bahwa Yamaha memiliki mesin yang kompetitif.

Hal itu cukup beralasan karena, sejak melakukan debutnya di kelas premier pada musim lalu bersama Yamaha, Lorenzo selalu menghadirkan persaingan di barisan depan. Selama 28 kali tampil bersama pabrikan Jepang itu, dia meraih tiga kemenangan dan 14 kali naik podium. Hal itu membuatnya meraih gelar Rookie of the Year 2008. Kini, dia menghuni posisi kedua klasemen sementara pebalap. Posisi itu di belakang rekan setimnya, Valentino Rossi.

Kontraknya bersama Yamaha berakhir musim ini. Tak heran jika sejak GP Jepang 26 April lalu sudah berembus kabar dia akan hengkang ke Honda. Itu sebelum tim ini memastikan bahwa mereka takkan mengubah komposisi skuadnya untuk musim depan karena mempertahankan duet Dani Pedrosa dan Andrea Dovizioso.

Setelah Honda, dalam beberapa pekan terakhir muncul nama Ducati yang mulai dikait-kaitkan dengannya. Bahkan, Ducati yang mencium kekecewaan Lorenzo kepada Yamaha—karena rencana kontrak baru yang tidak sesuai dengan harapan pebalap—siap membayar gaji yang besar bagi pebalap berusia 22 tahun tersebut.

Namun, Lorenzo mengakhiri semua spekulasi. Setelah berpikir cukup lama, mantan juara dunia kelas 250 cc tersebut memutuskan untuk tetap membela Yamaha pada musim 2010.

"Pertama, saya ingin berterima kasih kepada Ducati yang tertarik untuk merekrut saya, apalagi penawarannya sulit untuk ditolak," ungkap Lorenzo kepada majalah olahraga Spanyol, AS.

"Akhirnya, saya memutuskan untuk tetap bersama Yamaha karena kepercayaan yang sudah mereka berikan kepada saya selama tiga tahun, sebelum saya meraih sebuah gelar 250 cc. Saya tetap bersama Yamaha karena ini dan juga karena saya telah memiliki pengalaman selama dua tahun dengan motornya. Saya mengetahuinya dengan baik, dan saya pikir itu adalah pilihan terbaik untuk berusaha meraih gelar juara," tambahnya.

Sayang, Lorenzo tak mau membicarakan kontrak barunya dengan Yamaha. Namun,  rumor yang beredar, gajinya naik 100 persen, dari 2 juta euro (sekitar Rp 28,705 miliar) menjadi 4 juta euro (sekitar Rp 57,416 miliar) per tahun.

Tentang ini, Lorenzo mengatakan, "Jika saya hanya tertarik dengan uang, maka saya pasti akan pindah ke Ducati."

Benar, Lorenzo pasti pindah ke Ducati jika dia mata duitan. Pasalnya, Ducati dikabarkan telah mengajukan penawaran gaji senilai 6,5 juta euro (sekitar Rp 93,295 miliar) per tahun, meskipun ini masih jauh di bawah gaji Rossi yang diperkirakan mencapai 14 juta euro (sekitar Rp 200,953 miliar) per tahun.

Namun, ada satu hal yang membuat Lorenzo merasa senang sehingga mau menerima kontrak baru bersama Yamaha. Itu karena tim berjanji untuk memberikan motor yang sama dengan Rossi.

"Saya harus berterima kasih kepada Lin Jarvis dan juga Furusawa karena mereka berjanji kepada saya untuk tetap memberikan motor yang sama seperti Valentino, untuk paruh kedua tahun ini dan sepanjang musim depan. Itulah poin yang sangat penting ketika saya membuat keputusan ini," ungkapnya.

Pada awal musim, Lorenzo pernah mengatakan kepada Crash.net bahwa motor M1-nya "hampir sama' seperti milik Rossi.

Dengan keputusan Lorenzo untuk memperpanjang kontrak, maka dia termasuk satu dari beberapa pebalap yang sudah pasti memiliki tim pada musim 2010. Pebalap-pebalap lain adalah Rossi (Yamaha), Casey Stoner (Ducati Marlboro), Marco Melandri (Gresini Honda), Marco Simoncelli (Gresini Honda), Alvaro Bautista (Rizla Suzuki), dan Hector Barbera (Aspar Ducati). (CRS)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau