Paman Jibril Minta Komisi I DPR Panggil Presiden

Kompas.com - 27/08/2009, 16:15 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Ketua Lajnah Tanfidziah, paman Mohammad Jibril, Irfan S Awwas, mendatangi Komisi I DPR, Kamis (27/8), untuk meminta kepada wakil rakyat yang khusus membidangi masalah pertahanan dan hubungan luar negeri ini memanggil pemerintah, dalam hal ini Presiden SBY, terkait pernyataannya tentang 3 pemicu terjadinya aksi terorisme.

"Beberapa hal kami sampaikan beberapa hal, pentingnya DPR bersuara sekarang ini supaya memanggil Presiden yang telah menyatakan pemicu terorisme ada tiga, keterbelakangan, kemiskinan, dan ketidakadilan. Oleh karena itu, bagaimana konkretnya beliau menghentikan aksi terorisme ini," kata Irfan.

Irfan mengaku datang ke Komisi I DPR bersifat darurat. Kedatangannya bersama ayah Mohammad Jibril, Abu Jibril, ditemui oleh salah satu anggota Komisi I DPR, Ali Muchtar Ngabalin. Irfan kemudian kepada wartawan juga meminta klarifikasi tentang beberapa pernyataan atas stigma seakan-akan penegakan syariat Islam, jihad, pemicu terorisme.

"Kita meminta supaya DPR ikut berbicara agar jangan sampai terjadi masyarakat Indonesia menjadi antipati terhadap jihad dan syariat Islam, hanya dengan dalih pemberantasan terorisme. Kami juga minta pada Komisi I untuk meluangkan waktu berdialog dengan Majelis Mujahidin," ucap Irwan.

Dalam kesempatan itu, Irfan kemudian mengungkapkan, Ali Mochtar Ngabalin yang menemuinya di ruang Komisi I DPR kemudian berjanji akan melakukan dialog dengan mantan Kepala BIN, AM Hendropriyono, dan mantan Ketua MPR, Amien Rais, di Yogyakarta.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau