MADIUN, KOMPAS.com- Kenaikan harga lelang gula yang terus menerus pada musim giling ini menguntungkun petani tebu. Kondisi ini jauh lebih baik dibandingkan tahun lalu. Saat musim giling tahun lalu, petani tebu harus merugi karena harga lelang gula di bawah biaya produksi yang dikeluarkan.
Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Pabrik Gula (PG) Pagotan, Kabupaten Madiun, Suryadi, Kamis (27/8), mengatakan, dua minggu yang lalu harga lelang gula di PG Pagotan Rp 7.100 per kilogram (kg) sedangkan minggu lalu harga lelang gula naik menjadi Rp 8.371 per kg.
Tingginya harga lelang gula yang membuat petani sangat diuntungkan juga dialami petani tebu yang memasok tebunya ke PG Rejoagung, Kota Madiun. Menurut Ketua APTRI PG Rejoagung, Suwandi, harga lelang gula minggu lalu Rp 7.920 per kg sedangkan pada awal minggu ini naik lagi menjadi Rp 8.700 per kg.
"Harga itu sangat menguntungkan petani karena sebetulnya biaya produksi petani sudah kembali kalau harga gula sekitar Rp 6.000 per kg," kata Suwandi.
Namun keuntungan yang diperoleh petani ini tidak sepenuhnya untuk petani. Mereka harus berbagi dengan investor atau pemberi dana talangan kepada petani tebu.
Sesuai kesepakatan awal, kalau harga lelang gula di atas harga pokok penyangga gula yang ditetapkan pemerintah Rp 5.350 per kg, maka tambahan hasil penjualan gula dari kelebihan harga jual gula petani dari lelang akan dibagi dengan investor. Komposisi pembagian hasil penjualan, 60 persen untuk petani dan 40 persen untuk investor.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang