Institusi TNI Masih Belum Bisa Dipercaya

Kompas.com - 27/08/2009, 20:19 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Sejumlah elemen masyarakat sipil mempertanyakan rencana pelibatan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam menangani masalah terorisme di Tanah Air. Mereka menilai institusi itu masih belum bisa atau layak untuk dipercaya.

Penilaian itu dilontarkan dalam jumpa pers yang digelar di kantor Kontras, Jakarta, Kamis (27/8), yang diikuti perwakilan sejumlah lembaga swadaya masyarakat, seperti Mufty Maakarim (IDSPS), Edwin Partogi dan Oslan Purba (Kontras), dan dosen pascasarjana Universitas Indonesia Bidang Kajian Ilmu Kepolisian, Bambang Widodo Umar.

Kekhawatiran terbesar mereka terutama terkait kemungkinan terjadinya intimidasi, salah tangkap, penculikan, dan penyiksaan yang bisa saja dilakukan militer saat mereka diterjunkan mengejar anggota masyarakat, yang masih diduga pelaku teroris. Keterbatasan publik mengakses informasi soal penanganan terorisme masih jadi tantangan serius sampai sekarang.

"Apalagi jika TNI terlibat, padahal kita tahu institusi itu adalah lembaga paling tidak akuntabel dan tertutup," ujar Oslan. Militer, menurut Oslan, juga masih sangat tertutup, terutama terkait pertanggungjawaban berbagai pelanggaran HAM masa lalu yang mereka lakukan.

Tambah lagi beberapa orang dari kalangan militer sendiri masih menunjukkan mereka masih punya paradigma berpikir lama. "Coba lihat pernyataan salah seorang Panglima Kodam beberapa waktu lalu, yang menyatakan tangkap saja orang-orang yang berjanggut atau berjubah. Dari sana kan kelihatan dalam pikiran mereka niatnya sudah mau menangkap, bukan lagi sekadar mengawasi atau membantu polisi," ujar Oslan.

Dalam kesempatan sama, Edwin Partogi mempertanyakan kesan selama ini justru inisiatif untuk melibatkan militer justru muncul dari Presiden Susilo bambang Yudhoyono sendiri. Hal itu justru dinilai mengherankan karena inisiatif macam itu seolah-olah justru memperlihatkan ketidakpuasan presiden atas penanganan masalah terorisme oleh Kepolisian RI (Polri) selama ini.

"Belum lagi soal adanya pernyataan banyak kemampuan TNI yang menganggur (idle) karena tidak dimanfaatkan. Lagipula sekarang apa mau melibatkan tentara sampai nanti misalnya, hotel-hotel tempat orang asing dijaga panser? Apa tidak malah menunjukkan Indonesia negara tidak aman. Padahal kita harus bersyukur, bahkan Presiden Amerika Serikat Barack Obama saja katanya masih mau berkunjung ke Indonesia. Berarti kan dia masih percaya Indonesia aman," ujar Edwin.

Sementara itu, Bambang Widodo Umar mempertanyakan adanya anggapan militer lebih punya kemampuan dalam menangani aksi teror daripada polisi. Anggapan itu muncul bahkan dengan mengilustrasikan kesuksesan ABRI di masa lalu dalam Operasi Woyla. Operasi pembebasan sandera oleh Komando Pasukan Khusus TNI AD (Kopassus) itu terjadi tahun 1981 di Bandar Udara Don Muang, Bangkok, Thailand, ketika sebuah pesawat Garuda DC-9 "Digul" dibajak.

Dahulu kepolisian juga pernah menangani pembebasan sandera serupa di Yogyakarta, bulan April tahun 1972. Pelaku pembajaknya mantan militer dan pesawatnya milik maskapai Merpati. "Kalau soal kemampuan siapa pun mampu, cuma harus dilihat eskalasi ancamannya sehingga disesuaikan yang diterjunkan," ujar Bambang.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau