Olahraga Saat Puasa itu Sehat

Kompas.com - 29/08/2009, 11:09 WIB

Oleh Cornelius Helmy

"Hari ini saya hanya mengangkat beban sampai 100 kilogram. Padahal, biasanya mencapai 130 kg per hari," kata Conny Lusiana (17), atlet angkat berat kelas 48 kg asal Kota Bandung, Jumat (28/8).

Bagi Conny, mengangkat lempengan besi hingga 130 kg adalah rutinitas harian. Namun, selama bulan puasa, ia terpaksa mengubah metode latihan guna menjaga kebugaran tubuh menjelang Pekan Olahraga Daerah Jawa Barat XI/2010. Atas saran pelatihnya, metode latihan diubah dengan memperbanyak jumlah dan pengulangan angkatan daripada menambah berat beban.

Ia mengatakan sebelumnya hanya mengangkat tiga kali per hari. Namun, saat ini pelatihnya menyarankan ia melakukan lima kali angkatan per hari. Pengulangan angkatan pun ditambah, dari lima kali menjadi 10 kali per angkatan.

"Puasa tidak memengaruhi latihan karena adanya perubahan metode latihan. Bedanya cuma satu, dulu kalau haus bisa langsung minum, sekarang tidak," ujarnya.

Hal yang sama dikatakan Benny (35), karyawan swasta di Bandung. Selama bulan puasa, ia mengurangi rutinitas olahraganya. Sebelumnya, ia menghabiskan waktu dua jam pada malam hari untuk bermain futsal atau bulu tangkis bersama teman-temannya. Kini ia terpaksa mengurangi waktu latihan menjadi satu jam karena bertepatan dengan bulan puasa.

"Sekarang paling lama hanya satu jam per hari. Saya harus mengatur waktu agar hobi ini tidak mengurangi kebugaran tubuh saat menjalankan puasa dan aktivitas harian esok hari," tutur Benny.

Jangan berhenti

Rahmat, pelatih angkat berat, angkat besi, dan binaraga tim Porda Kota Bandung, mengatakan, pengubahan metode latihan harus dilakukan pada bulan puasa. Atlet bisa jatuh sakit bila tetap melakukan latihan reguler dengan perut kosong. Perut kosong potensial menyebabkan sakit lever atau tifus.

"Makanan tambahan dan suplemen kesehatan juga diberikan untuk menjaga kebugaran atlet. Makanan tambahan itu seperti susu, buah-buahan, hingga bubur kacang hijau," Rahmat menjelaskan.

Kepala Seksi Pelayanan Badan Kesehatan Olahraga Masyarakat Bandung Iyan Apriyana menyebutkan, berolahraga selama bulan puasa sangat baik untuk menjaga kebugaran tubuh. "Kalau langsung berhenti, justru akan menurunkan kebugaran tubuh. Dalam bulan puasa, yang harus diperhatikan adalah porsi atau dosis olahraga," kata Iyan.

Akan tetapi, ia menegaskan, harus ada rancangan latihan yang baik guna mendapatkan hasil maksimal. Contohnya adalah menetapkan waktu latihan 2-3 jam sebelum buka puasa. Saat itu, cuaca tidak terlalu panas dan jeda dengan waktu buka puasa tidak terlalu lama.

Pemakaian sepatu juga harus diperhatikan sesuai dengan cabang olahraga. Alasannya, sepatu yang tepat bisa membantu tubuh menopang beban akibat aktivitas olahraga.

"Contohnya, atlet olahraga atletik sebaiknya menggunakan sepatu bersol empuk, sedangkan pelaku olahraga tenis disarankan menggunakan sepatu bersol antiselip," kata Iyan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau