Kenaikan Harga Gula Dipicu Permintaan Kalangan Industri

Kompas.com - 30/08/2009, 19:51 WIB

SEMARANG, KOMPAS.com - Kenaikan harga gula pasir yang terus terjadi selama sebulan terakhir dipicu meningkatnya kebutuhan pasar. Hal ini tidak terlepas dari tingginya permintaan dari kalangan industri makanan dan minuman yang sebelumnya menggunakan gula rafinasi.

Salah satu pengusaha minuman serbuk, Direktur PT Ulam Tiba Halim Harjanto Halim, Minggu (30/8), mengakui, mulai beralih menggunakan gula kristal putih lokal pada produknya setelah suplai gula rafinasi tersendat sehingga berakibat pada kenaikan harganya di pasar dunia.

"Mulai Juli lalu, stok rafinasi susah didapat dan harganya mahal. Akhirnya kita memilih untuk mencampur gula rafinasi dengan gula dalam negeri yang kejernihan dan kadar airnya memenuhi syarat," kata Halim tanpa merinci berapa penyerapan gula dalam negeri dan gula rafinasi untuk industrinya.

Harga gula pokok produksi (HPP) gula kristal putih di tingkat petani tebu pada pertengahan Juli naik dari Rp 6.500 per kilogram (kg) menjadi Rp 7.000 per kg. Pada bulan Agustus, HPP gula tersebut naik lagi menjadi Rp 8.500 Rp 8.600 per kg.

Ketua Dewan Pimpinan Nasional Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Abdul Wachid, menyebutkan, kenaikan harga gula pasir itu disebabkan meningkatnya tingkat penyerapan gula dalam negeri dari biasanya 250.000 ton per bulan menja di 390.000 ton pada bulan Juli.

"Biasanya, konsumen gula lokal hanya dari kalangan rumah tangga. Namun, sejak pertengahan Juli lalu pihak industri makanan dan minuman juga ikut menyerapnya, padahal biasanya mereka hanya menggunakan gula rafinasi," kata Wachid.

Kondisi tersebut masih terus berlangsung. Hingga pertengahan Agustus atau terhitung dalam dua pekan saja, Wachid menyebutkan, penyerapan gula dalam negeri bahkan telah mencapai 260.000 ton. "Dengan melihat kondisi itu, tingkat penyerapan gula selama Agustus bisa sampai 500.000 ton per bulan," ucap Wachid memprediksi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau