Bernanke, Gubernur The Fed pada Era Paling Sulit

Kompas.com - 31/08/2009, 10:31 WIB

KOMPAS.com - Selain investor, pialang saham, CEO perusahaan besar, dan pelaku industri, orang yang paling pusing karena krisis di AS adalah Gubernur Bank Sentral Ben Bernanke. Daya dan upaya dilakukan agar dapat membantu perekonomian AS dari hantaman badai krisis di tengah hujan kritik.

Sosoknya yang botak dan berjenggot putih sering muncul di televisi ataupun koran pada masa-masa terkelam perekonomian AS dan dalam 70 tahun terakhir. Pernyataan-pernyataannya selalu ditunggu, bahkan dapat menentukan arah pergerakan pasar saham.

Awal pekan ini Presiden AS Barack Obama kembali mencalonkan Ben Bernanke (55) sebagai Gubernur Bank Sentral AS untuk masa jabatan kedua. Penunjukan tersebut hanya tinggal menantikan ketuk palu dari Senat AS. Sebelumnya muncul rumor bahwa Timothy Geithner, Menteri Keuangan AS sekarang, akan dijagokan Obama menggantikan Bernanke. Rumor itu pupus.

Bernanke akan menjalani lagi masa tugas selama empat tahun ke depan untuk bergulat dengan tantangan lain. Tantangan itu antara lain meluncurkan banyak program untuk menyelamatkan ekonomi. Jabatan periode kedua Bernanke jelas tak akan mudah. Tampaknya waktunya juga akan dihabiskan untuk memikirkan kembali regulasi lembaga keuangan AS untuk meminimalkan risiko. Bernanke termasuk tokoh yang yakin bahwa aksi-aksi spekulasi di sektor keuangan, dan bisnis yang liar, menjadi penyebab utama krisis.

Bernanke pernah mengecam AIG (lembaga keuangan terbesar AS dengan fokus pada asuransi), yang justru telah berulah seperti spekulan. Itu adalah ucapan ”paling kasar” Bernanke, yang sebenarnya selalu tampil kalem, bahkan misterius. Hujan kritik dari mereka yang tidak paham kerusakan sektor keuangan, warisan dari era Presiden George W Bush, membuat Bernanke keceplosan. Kini Bernanke gencar mendorong regulasi sektor keuangan dan memperkuat otoritas sektor keuangan untuk mengawasi lembaga-lembaga keuangan.

Belajar dari depresi

Apa kira-kira yang membuat Bernanke ditunjuk kembali? Tidak ada pernyataan eksplisit dari Presiden Obama soal itu, kecuali menyebutkan bahwa dia membutuhkan Bernanke. Namun, dari sepak terjang Bank Sentral AS, terlihat bahwa Bernanke paham soal cara mengatasi krisis, dari sisi perannya sebagai Gubernur Bank Sentral. Dia mendalami Depresi Besar 1929, dengan kesimpulan bahwa kesalahan fatal Bank Sentral AS saat itu memperparah krisis ekonomi. Kesalahan itu adalah Bank Sentral AS menekan aliran kredit ke pasar.

Nah, pada saat krisis ini Bank Sentral AS tak mau kecolongan, walau berdampak pada meningkatnya beban keuangan Pemerintah AS. Dia mengucurkan dana ke pasar. Selama kepemimpinan Bernanke, aliran pinjaman dari Bank Sentral AS ke pasar naik menjadi 2 triliun dollar AS dari 800 miliar dollar AS.

Tindakan ini dipuji mantan Menteri Keuangan AS, Henry Paulson. ”Mungkin akan terasa boros, tetapi jika saja Bank Sentral AS tidak mengucurkan dana, keadaan ekonomi akan jauh lebih parah,” kata Paulson beberapa waktu lalu di hadapan Senat AS.

Bernanke mendapatkan kredit dari ucapan Paulson itu. Namun, Bernanke sempat dianggap kurang tanggap dan tak menyadari krisis akan terjadi meski telah muncul tanda-tandanya.

Ironisnya, pada Mei 2007 Bernanke sudah khawatir tentang instrumen keuangan yang telah mengubah Wall Street menjadi ajang spekulasi dengan keberadaan ratusan, atau mungkin ribuan, spekulan berdasi. Namun, ketika itu, dia mengatakan penyebaran risiko pada sistem finansial telah meningkatkan ketahanan ekonomi.

Ada permainan silat lidah, yang mungkin terpaksa dilakukan, untuk mencegah kepanikan pasar. Namun, benang merah kebijakan Bank Sentral jelas menolong sebisa mungkin perusahaan bangkrut untuk mencegah efek domino, lepas dari layak atau tidaknya lembaga keuangan itu ditolong.

Di mata Bernanke, keadaan sudah terlalu parah dan tidak ada lagi waktu untuk lebih meributkan manajemen perusahaan keuangan yang amburadul. Setelah Bear Stearns kolaps, ada kekhawatiran kebangkrutan akan berentet.

Bernanke dan Henry Paulson meminta Kongres memberi kekuatan lebih luas kepada mereka untuk meredam keresahan pasar. Dia pun bersikeras, Bank Sentral memiliki banyak alat untuk mengatasi krisis finansial. Pasar harus terus diguyur dana agar kredit terus berjalan.

Namun, di sisi lain, Bernanke yang keturunan Yahudi Ukraina juga memanfaatkan jaringan dan kolega. Pada saat mahasiswa, tesis Bernanke dipandu oleh Stanley Fischer, mantan pejabat IMF yang pernah ”mendikte” Indonesia di bawah almarhum mantan Presiden Soeharto. Kini Fischer menjabat sebagai Gubernur Bank Israel.

Sadar bahwa krisis bisa diperburuk dari pasar uang, Bernanke menjadi lebih asertif. Dia menekan koleganya di AS dan di luar negeri agar membuat langkah yang lebih terkoordinasi untuk menyelamatkan perekonomian dunia. Dia juga bekerja sama dengan Fischer. Para analis mengatakan, Bernanke seperti siswa yang memiliki hasil bagus pada ujian akhir. Terbukti pasar mulai tenang. (Joice Tauris Santi)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau