RI Impor 100.000 Ton Bahan Baku Pupuk

Kompas.com - 31/08/2009, 13:31 WIB

Penuhi Bahan Baku Pupuk, RI Impor 100.000 Ton Posfat Maroko

 

JAKARTA,KOMPAS.com - Guna memenuhi kebutuhan bahan baku pupuk nasional, pemerintah RI menyepakati kerjasama untuk mengimpor Posfat Rock dari Maroko.

Kesepakatan ini disampaikan oleh Menteri Pertanian RI Anton Apriantono di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Senin ( 31/8 ), usai kunjungan kerja Departemen Pertanian ke Maroko, Tunisia, dan Jordania. Turut serta dalam kunjungan tersebut, pihak swasta yang terdiri dari perusahaan pupuk nasional yakni Pusri, Pupuk Kaltim, dan Pupuk Gresik.

Menurut Anton, Maroko akan menjadi suplier utama Indonesia untuk kebutuhan Posfat Rock yang merupakan bahan baku utama pupuk organik dan pupuk NPK. "Ini penting karena di Indonesia sendiri akan semakin didorong penggunaan pupuk organik dan pupuk NPK untuk menggantikan pupuk tunggal," kata Anton.

Maroko selama ini dikenal memiliki cadangan kekayaan alam berupa posfat dalam jumlah yang sangat besar. Maroko merupakan pengekspor 40 persen untuk kebutuhan Posfat diseluruh dunia.

Pelaksanaan kerjasama impor tersebut, menurut Anton pada pelaksanaannya akan dilakukan antar sektor swasta kedua negara. Dari pihak Indonesia, kerjasama disepakati untuk diwakili oleh PT Pupuk Kaltim. Sementara pengekspor dari Maroko adalah perusahaan Office Cherifien Des Phosphate (OCP), produsen posfat dan asam posfat Maroko. Pertemuan kedua pihak menyepakati kerjasama untuk pengadaan posfat sebagai bahan baku pupuk di Indonesia dengan harga yang wajar.

Pihak Pupuk Kaltim sebagai salah satu produsen pupuk nasional, disebutkan sepakat untuk membeli 100.000 ton posfat dari OCP. "Masalah detail teknisnya kami serahkan pada pihak Pupuk Kaltim untuk dibicarakan lebih lanjut," ujar Anton.

Menurutnya kerjasama antar kedua pihak ini sangat penting untuk merealisasikan peningkatan produksi dan kualitas pupuk nasional. Terutama menjelang perubahan iklim akhir-akhir ini yang bisa memberikan dampak buruk bagi pertanian dan implikasinya terhadap ketahanan pangan nasional. "Karena kita ingin suplai untuk bahan pupuk ini tersedia. Kebutuhan posfat untuk bahan pupuk ini harus selalu ada," tukasnya.

Selain menyepakati untuk mengimpor Posfat, Pemerintah RI juga melakukan sejumlah kerjasama dengan pemerintah Maroko. Antara lain kerjasama di bidang ketahanan pangan, penelitian dan transfer teknologi, serta preserve gen tanaman. Disepakati juga adanya penandatanganan nota kesepakatan untuk pertukaran para tenaga ahli dan peneliti dalam program selama tiga tahun. "Kerjasama ini akan melakukan penelitian tentang pengaruh perubahan iklim terhadap produksi pertanian, serta penelitian tentang efektivitas penggunaan posfat untuk tanaman," tandas Anton.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau