Menhan: Kapal 'Pindad' Salahi Jalur Angkut

Kompas.com - 31/08/2009, 14:44 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono menilai, penahanan kargo bermuatan 50 senapan buatan pindad jenis SS1-V1, dan beberapa perlengkapan militer akibat tidak sesuainya prosedur perjalanan kapal. Kapal berbendera Panama bernama "Capt Ufuk" semestinya langsung menuju Manila, tidak singgah ke lokasi lain.

"Keterangan polisi Filipina, kapal berbendera Panama itu seharusnya berlabuh langsung ke Manila untuk menurunkan senjata genggam milik Filipina," kata Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono usai mengikuti rapat terbatas di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (31/8).

Menurut Menhan, pemerintah Filipina sendiri hanya memesan sepuluh pucuk senapan genggam. Namun sebelum senjata diserahkan, kapal justru singgah ke lokasi lain. Dan akhirnya, tertangkap petugas Bea dan Cukai Filipina.

Menteri Juwono menyebut, kesalahan prosedur perjalanan itu lantaran sang kapten kapal yang berasal dari Afrika Selatan menerima telepon dari pemasok senjata. "Kapten kapal itu ditelepon pemasok untuk singgah sebelum berlabuh ke Manila. Di situ kesimpangsiurannya," jelasnya.

Selain permasalahan prosedur perjalanan kapal, Menhan mengakui, adanya keterangan perihal hilangnya senapan laras panjang yang diperuntukkan negara Mali. Hilangnya senjata ini justru terjadi saat kapal singgah di tempat yang sebelumnya tidak dijadwalkan.

"Di tengah jalan pulau Bataan, 15 dari 20 kotak senjata SS1 itu sempat raib," ujar Menhan.

Meski demikian, Menteri Juwono memastikan bila penjualan senjata asal Pindad telah memenuhi prosedur tetap yang ditetapkan pemerintah Indonesia. "Waktu dari sini sudah sah, dan disaksikan TNI dan Polri," tegasnya.

Menhan menambahkan, saat ini tengah terjalin kerjasama antar kepolisian Indonesia dan Filipina untuk mengungkapnya.

Sebelumnya, petugas Bea dan Cukai Filipina menahan sebuah kapal kargo berbendera Panama bernama Capt Ufuk di lepas Pantai Mariveles, Bataan, Kamis (20/8) lalu.

Petugas Filipina menemukan 50 senapan buatan Pindad jenis SS1-V1 dan beberapa perlengkapan militer lainnya. Petugas juga menemukan 10 peti kayu kosong. Mereka menduga sebagian isi peti itu sudah sempat dibongkar sebelum ketahuan aparat. (ade)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau