Tinjau Ulang Investor Listrik Swasta

Kompas.com - 31/08/2009, 19:11 WIB

PALEMBANG, KOMPAS.com - PLN mendesak pemerintah meninjau ulang investor perusahaan listrik swasta atau Independent Power Producer (IPP), karena banyak proyek IPP di Indonesia yang tidak berhasil termasuk di Sumsel. Demikian dikatakan Direktur Utama PT PLN (Persero) Fahmi Mochtar di Palembang, Sumsel, Senin (31/8).

Fahmi mengungkapkan, dari 150 proyek IPP hanya 20 proyek atau sekitar 14 persen yang berhasil. Kendalanya adalah harga pembelian listrik atau Power Purchase Agreement (PPA) yang terlalu rendah sehingga tidak bankable. Kendala yang lain adalah harga energi primer yang mengalami fluktuasi dan harga bahan baku yang tinggi.

Fahmi menjelaskan, khusus di Sumsel hanya dua proyek IPP yang berhasil dari rencana 5-6 proyek IPP yaitu di Keban Agung dan Simpang Belimbing masing-masing berkapasitas 2x100 MW.

Menurut Fahmi, banyaknya proyek IPP yang tidak berhasil harus dicari solusinya dan kepada investor diberi batas waktu. PLN dan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) bekerjasama menilai proyek IPP yang layak dan tidak layak dilanjutkan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau