Kisah Meriam Ramadhan di Tepi Sungai Kapuas

Kompas.com - 01/09/2009, 11:03 WIB

PONTIANAK, KOMPAS.com - Warga Pontianak yang tinggal di tepian Sungai Kapuas mulai mempersiapkan tradisi meriam karbit yang akan digunakan untuk menyambut malam Lebaran mendatang. Sejauh ini mereka cukup kesulitan memperoleh rotan dan kayu log (bulat) yang digunakan sebagai bahan baku pembuatan meriam karbit.

"Rotan dan kayu log sekarang ini makin sulit didapat. Kalau pun ada harganya sangat mahal," kata Mochtar (39), Ketua RT 05/11 di Gang Kuantan, Kelurahan Benua Melayu Laut, Pontianak Selatan.

Meriam karbit merupakan tradisi khas Pontianak menyambut hari Lebaran, yang muncul sejak berdirinya Keraton Kadriah Pontianak pada 1771. Meriam karbit terbuat dari batang kayu log sepanjang empat meter yang dibelah dan dilubangi bagian dalamnya layaknya pipa, lalu ditangkupkan kembali dan diikat menggunakan rotan.

Meriam kayu yang menggunakan bahan bakar karbit ini diletakkan berjejer di sepanjang tepian Sungai Kapuas dan dibunyikan pada malam takbiran. Meriam yang biasanya berjumlah lebih dari seratus buah itu saat dibunyikan dentumannya bisa mencapai radius 5 kilometer.

Mochtar menuturkan, untuk mendapatkan rotan saat ini harus memesan ke Sungai Ambangah, Kabupaten Kubu Raya, sekitar 20 kilometer dari Kota Pontianak, sejak 10 hari menjelang bulan Ramadhan. Harga rotan saat ini mencapai Rp 2.500 tiap kilogram, naik Rp 500 dari tahun sebelumnya. Kenaikan ini cukup terasa mengingat untuk membuat satu meriam karbit dibutuhkan sekitar 80 kilogram rotan.

Sementara untuk kayu log berdiameter 0,5 meter dengan panjang 4 meter yang menjadi bahan baku utama meriam, saat ini harganya mencapai Rp 2,5 juta. Untuk mendapatkannya pun cukup sulit mengingat industri kayu di Kalbar sudah banyak yang gulung tikar. Tahun ini warga di Gang Kuantan memilih tidak membuat meriam baru dan memanfaatkan meriam karbit tahun sebelumnya.

"Dari tujuh meriam yang kami miliki, enam di antaranya masih bisa diperbaiki dan dipergunakan kembali. Satu meriam tidak bisa dipakai lagi karena lapuk," kata Mochtar.

Kondisi serupa dialami warga Gang Kabul, Kelurahan Banjar Serasan, Pontianak Timur. Dari lima meriam yang mereka miliki, hanya dua meriam yang bisa diperbaiki dan digunakan kembali. "Tahun ini kami hanya bisa membuat dua meriam baru karena kayu sekarang harganya mahal dan sulit didapat," kata Bunyanan (40), warga setempat.

Untuk mendapatkan kayu log tersebut, mereka membeli dan menebang sendiri di hutan Desa Ambangah, Kabupaten Kubu Raya, sekitar 21 kilometer dari Kota Pontianak. Kayu berdiameter sekitar 40 centimeter sepanjang 8 meter itu selanjutnya ditarik menggunakan perahu motor dengan menyusuri Sungai Kapuas.

"Biaya pembuatan meriam ini diperoleh dari swadaya warga. Dengan bahan baku yang sudlit didapat dan harganya mahal ini seharusnya pemerintah daerah turut membant memberikan solusi karena meriam karbit ini aset budaya dan pariwisata daerah," kata Bunyanan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau