Perajin Minta Batik Trusni Cirebon Dipatenkan

Kompas.com - 01/09/2009, 13:51 WIB

CIREBON, KOMPAS.com--Pengusaha batik Cirebon minta pemerintah segera mematenkan batik Trusmi sebagai salah satu khasanah kekayaan budaya Nusantara dari Cirebon.

"Pemerintah perlu segera mematenkan batik Trusmi Cirebon sebagai salah satu kekayaan intelektual masyarakat Indonesia khususnya Cirebon. Kami tidak rela kalau nasib batik Trusmi Cirebon suatu saat diklaim negara lain," ujar H Katura, pengusaha Batik Trusmi, Senin.

Jumlah motif batik khas Trusmi sudah mengalami banyak kemajuan hingga sekarang sudah tercatat lebih dari 400 motif baru.

"Kami berencana mengajukan hak paten 400 motif asli Batik Trusmi sehingga tidak ada lagi pihak luar yang mengklaim batik khas Cirebon ," tegas Katura.

Diakuinya, seiring perkembangan zaman, para pengrajin batik Cirebon banyak membuat kreasi-kreasi baru terhadap motif batiknya. Sehingga sebenarnya masih banyak motif batik Cirebon yang belum terdata.

Oleh karena itu, berdasarkan hasil pendataan yang sudah ada ini, Katura mengharapkan perhatian pemerintah daerah untuk segera mematenkan batik Cirebon sambil terus memperbarui data setiap motif batik yang baru.

Sementara itu, Kepala Badan Koordinas Pembangunan dan Pemerintahan (BKPP) Wilayah Cirebon Ano Sutrisno mengakui hingga saat ini masih banyak kesenian dan kebudaaan daerah khas Cirebon yang  belum mempunyai sertifikat hak paten.

Selama ini, lanjut Ano, pengakuan kesenian dan budaya Cirebon baru dikenal masyarakat secara lisan saja. "Banyak kalangan yang sudah mengakui secara lisan bahwa kesenian Cirebon seperti Sintren dan Tari Topeng atau makanan khas Jamblang, empal gentong serta kerajinan batik Trusmi sebagai khas daerah Cirebon. Namun belum dipatenkan," ujar Ano.

Menyikapi keinginan para pengusaha batik tadi, Ano sudah berencana akan melakukan koordinasi dengan para kepala daerah untuk membahas aset seni dan budaya serta kuliner khas Cirebon ini untuk masa depan. "Sudah seharusnya para kepala daerah mulai aktif mendata dan melestarikan kekayaan seni, budaya dan kuliner daerahnya masing-masing ," ujar Ano.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau