Menpan: Ada Yang Salah Di Negara Ini

Kompas.com - 02/09/2009, 13:22 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Taufiq Effendi menilai, ada sesuatu yang salah di Indonesia. Kesalahan itu, menurutnya, setiap sektor instansi atau departemen di pemerintahan dapat membuat Undang-undang untuk keperluannya masing-masing.

"Ada yang salah di negara ini. Undang-undang dibuat di tiap sektor lalu dibawa ke DPR, lalu tiap-tiap sektor berjuang mati-matian (untuk meloloskan Undang-undang tersebut di DPR)," ujarnya saat sambutan pembuka Uji Materi dan Harmonisasi Rancangan Peraturan Pemerintah Tentang Pedoman Umum Pengaturan Tatalaksana Perizinan dan Non Perizinan, di Kantor Kementrian Negara Pendayagunaan Aparatur Negara, Jakarta, Rabu (2/9).

Hal tersebut, menurut Menpan, merupakan suatu kesalahan mendasar. Karena, akan menimbulkan ego sektoral di masing-masing sektor. Pasalnya, masing-masing sektor tersebut akan secara mati-matian memperjuangkan Undang-undang dari sektornya. "Ini adalah kesalahan mendasar," katanya.

Karena itu, ia berharap, dengan adanya acara Uji Materi dan Harmonisasi Rancangan Peraturan Pemerintah Tentang Pedoman Umum Pengaturan Tatalaksana Perizinan dan Non Perizinan yang diikuti dari berbagai sektor pemerintahan tersebut, ego sektoral dan visi sektoral dapat dihilangkan. "Dari sego sektoral menjadi ego nasional. Dari visi sendiri menjadi visi bersama," ujarnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau