JAKARTA, KOMPAS.com — Pengamat Politik Syamsuddin Haris mengingatkan Partai Keadilan Sejahtera agar tak terlalu berharap banyak dengan kontrak politik yang telah dibuatnya dengan calon presiden Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono.
Peneliti LIPI ini mengatakan, SBY tipikal yang ingin menyenangkan dan memenuhi harapan semua pihak. Dengan banyaknya orang yang membantu kemenangannya bersama Boediono, ia memprediksi, SBY akan membagi rata kursi kabinetnya.
"Dia (SBY) punya timses berapa banyak? Konsekuensi logis, jatah banyak yang dijanjikan ke PKS akan jadi sedikit. Kalau PKS membayangkan bisa dapat lima atau enam kursi, paling maksimal dapat tiga," ujar Syamsuddin seusai berbicara dalam diskusi, Rabu (2/9) di Gedung DPD, Jakarta.
Indikasi kekecewaan yang akan dialami PKS, menurut Syamsuddin, terlihat dari upaya SBY untuk merangkul dua partai yang menjadi rival di pemilu, PDI Perjuangan dan Golkar. Jika hal itu terjadi, PKS akan kecewa untuk yang kedua kalinya.
"Kali ini, PKS untuk kedua kalinya punya kontrak politik dengan SBY. Pada Pilpres 2004, PKS satu-satunya parpol yang punya kontrak politik dengan SBY. Saya menduga, PKS akan kecewa untuk kedua kali pada SBY, jika memang kontrak politik itu menyinggung soal jatah-jatahan," ujar Syamsuddin.
Sebelumnya, Ketua DPP PKS Mahfudz Sidik mengakui, selain agenda politik koalisi, kontrak politik dengan SBY juga mengatur tentang power sharing. Hal itu terjadi jika pasangan SBY-Boediono memenangi pertarungan.
Tak takut kecewa lagi? "Sejauh ini, PKS tidak khawatir Pak SBY akan meninggalkan kontrak politik," kata Mahfudz, yang juga Ketua Fraksi PKS di DPR.
Wakil Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI Sutan Bhatoegana menjamin, SBY akan memenuhi komitmen dan konsisten terhadap kontrak politik yang telah ditandatanganinya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang