Korban Tewas di Tasikmalaya Sembilan Orang

Kompas.com - 03/09/2009, 03:45 WIB

TASIKMALAYA, KOMPAS.com - Bupati Tasikmalaya Tatang Farhanul Hakim menyatakan laporan sementara yang diterimanya langsung adalah jumlah korban meninggal dunia akibat gempa bumi berkekuatan 7,3 skala Richter (SR), Rabu, sekitar pukul 15:55 WIB mencapai sembilan orang.
    
"Beberapa kecamatan melaporkan ada sembilan orang yang meninggal akibat gempa," katanya di Tasikmalaya, Rabu (2/9) malam.
    
Diterangkannya, korban meninggal akibat tertimpa reruntuhan tembok rumah warga yang roboh di lima kecamatan, yakni Sodonghilir, Cisayong dan Salawu, Cigalontang dan Cineam, akibat guncangan gempa yang terjadi cukup lama.
    
Sedangkan, warga yang tersebar di 39 kecamatan di Kabupaten Tasikmalaya, sebagian mengalami luka berat dan ringan, serta ratusan rumah mengalami kerusakan retak-retak dan roboh, dan satu unit Puskesmas Cigalontang hancur rata dengan tanah. "Pasien yang berada di puskesmas terpaksa diungsikan ke kantor kecamatan," katanya.
    
Menurutnya, kerusakan yang dinilai fatal terjadi di Kecamatan Cigalontang. Sedangkan di Cineam satu pondok pesantren rusak, dan di Kecamatan Manonjaya, masjid bersejarah mengalami kerusakan yang cukup berat.
    
Upaya penanganan yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya adalah melakukan koordinasi dengan pemerintah provinsi serta kantor kecamatan, polsek, termasuk melibatkan TNI dari koramil.
    
Mengenai korban yang mengungsi akibat ketakutan berada di dalam rumah, pihak pemerintah Kabupaten memfasilitasi tenda darurat yang tersebar di daerah yang banyak pengungsi.
    
Sementara itu Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya telah memberikan bantuan sosial berupa makanan yang dibagikan kepada seluruh masyarakat yang mengungsi maupun mengalami luka-luka.
    
Dijelaskannya, warga yang mengalami luka-luka kini dirawat di puskesmas, dan rumah sakit terdekat dengan dibebaskan segala biaya perawatan dan pengobatan. "Semua sudah kami tangani, diharapkan warga tetap waspada dan jangan panik," katanya.
   
Sementara itu di Kecamatan Cikalong, yang berdekatan dengan pantai laut lepas, warga mengungsi ke kampung yang datarannya cukup tinggi untuk menghindari terjadi gempa susulan yang dikhawatirkan menyebabkan tsunami.
   
Camat Cikalong, Iwan Ridwan, di kantor Bupati Tasikmalaya, yang berada di wilayah Kota Tasikmalaya, Rabu malam mengatakan warga yang mengungsi karena khawatir terjadi tsunami seperti yang tejradi beberapa tahun lalu. "Warga ketakutan akan terjadi tsunami lagi, sekarang mereka mengungsi ke daerah lain yang datarannya tinggi," katanya.
    
Warga Cikalong yang mengungsi kebanyakan orang tua dan manula, sedangkan kaum muda ditugasi bersiaga dan menjaga rumah warga dari lima desa, yakni desa Cikalong, Sindangjaya, Mandalajaya, Cimanuk, dan Kelageuneup.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau