Jelang Lebaran, Jangan Tertipu Daging Murah

Kompas.com - 03/09/2009, 12:23 WIB

KULON PROGO, KOMPAS.com - Konsumen diimbau tak mudah tergiur daging berharga murah. Besar kemungkinan daging itu sesungguhnya adalah bangkai. Daging murah diperkirakan akan marak diperdagangkan di pasar-pasar tradisional beberapa hari jelang Idul Fitri.

Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Kelautan Perikanan dan Peternakan Kulon Progo Endang Purwaningrum mengatakan itu dalam razia daging di Pasar Sentolo, Kulon Progo, Kamis (3/9). Razia juga melibatkan petugas dari Dinas Pertanian Provinsi DIY dan Satuan Polisi Pamong Praja DIY serta Kulon Progo.

"Konsumen harus teliti terhadap kualitas daging. Biasanya, daging murah memiliki kualitas buruk, seperti tercium bau anyir, warna pucat atau kebiruan, kekenyalan daging kurang, dan bahkan cenderung berair," ungkap Endang.

Harga daging murah umumnya hanya separuh dari harga normal. Saat ini, daging sapi dijual sekitar Rp 65.000 per kilogram, daging ayam sekitar Rp 23.000 per kilogram, dan daging kambing sekitar Rp 40.000 per kilogram. Menurut para pedagang, harga itu mengalami kenaikan rata-rata 10 persen dari pekan lalu.

Kendati demikian, hasil razia memperlihatkan kualitas daging yang dijual di Pasar Sentolo relatif baik. Dalam razia tersebut, petugas memeriksa 10 penjual daging ayam, tiga penjual daging sapi, dan seorang penjual daging kambing.

Pemeriksaan berlangsung detail karena petugas dilengkapi alat pengukur keasaman (pH meter), suhu, dan tabung reaksi Durante untuk mengetahui tingkat kesegaran daging. Sampel daging yang dimasukkan ke dalam cairan Durante akan berwarna biru apabila kondisinya segar dan berwarna hijau jika sudah menjadi bangkai.

Ditambahkan Endang, selain dijual mentah, daging murah juga banyak yang dijual matang siap santap. Jika sudah dimasak, maka konsumen akan semakin sulit mengidentifikasi kualitas daging.

Karyo (40), penjual daging ayam di Pasar Sentolo mengatakan tidak berani menjual bangkai atau ayam tiren (mati kemarin). Ia tidak mau mempertaruhkan kepercayaan dari konsumen hanya demi meraup keuntungan sesaat.

"Semua daging yang saya jual masih segar, baru dipotong pada pagi hari. Kalau ada daging yang tidak laku akan saya konsumsi sendiri, tidak saya simpan untuk dijual esok hari," katanya.

Sementara itu, sejumlah warga yang ditemui di pasar berharap petugas dapat lebih rutin menggelar razia, terutama pada sepuluh hari menjelang hari raya Idul Fitri. Dengan begitu, mereka akan merasa lebih terlindungi.

"Kalau petugas sering mendatangi di pasar, pedagang daging bangkai tentu tidak akan berani berjualan. Kami sendiri tidak mampu membedakan kualitas daging secara kasat mata," demikian ujar Maryati (35), warga Nomporejo, Lendah.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau