KULON PROGO, KOMPAS.com - Meski dipastikan tidak berpotensi tsunami, gempa bumi 7,3 skala richter yang di sekitar 142 kilometer barat daya Tasikmalaya, Jawa Barat, Rabu lalu, membuat nelayan pesisir Kulon Progo resah. Nelayan takut melaut karena gelombang tiba-tiba tinggi hi ngga mencapai tiga meter. Mereka yakin bahwa ombak besar terjadi akibat pengaruh gempa bumi.
Menurut Suep (44), nelayan di Pantai Bugel, Panjatan, Kulon Progo, kondisi laut sebelum gempa relatif tenang. Ketinggian ombak saat itu hanya sekitar 1,5 sampai dua meter. Nelayan pun masih beraktivitas seperti biasa. "Namun, sejak gempa terjadi, Rabu sore, tiba-tiba saja air laut tidak tenang. Hingga Kamis pagi, gelombang tetap tinggi, sekitar tiga meter," ujar Suep, Kamis (3/9).
Empat perahu nelayan sempat nekat hendak melaut, namun hanya satu yang berhasil menembus ombak. Kondisi permukaan air laut yang tidak bers ahabat juga membuat hasil tangkapan ikan tidak maksimal. Suep mengatakan pemilik perahu hanya mendapat beberapa kilogram ikan, biasanya mencapai lebih dari satu kuintal.
Manto (30), nelayan lain, mengaku akan terus menunggu hingga kondisi laut normal. Sebenarnya saat ini sedang mulai masuk musim ikan. "Beberapa nelayan di Pantai Trisik dan Congot malah sudah berhasil menangkap ikan awal pekan ini," katanya.
Menurut Anggota Tim Search and Rescue (SAR) Glagah Sumaryono, kondisi ombak memang tidak menentu. Beberapa hari lalu, ombak sempat meninggi, lalu reda, kemudian meninggi lagi. Untuk itu, Tim SAR Glagah akan meningkatkan pengawasan terhadap keselamatan nelayan dan wisatawan secara intensif.
Terpisah, Kepala Seksi Data dan Informasi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta Toni Agus Wijaya menepis anggapan ombak besar dipicu gempa bumi atau tsunami. Menurutnya, getaran gempa hanya berpengaruh sesaat. Lagipula, BMKG juga menetapkan gempa Tasikmalaya tidak berpotensi tsunami. "Gelombang besar itu lebih dipengaruhi angin kencang musim kemarau. Menurut pemantauan citra satelit, terjadi penambahan kecepatan angin selama pekan ini," ujarnya.
Peningkatan kecepatan angin itu disebabkan perbedaan tekanan udara di permukaan Benua Australia, sebesar 1029 milibar, dengan Benua Asia yang hanya 1004 milibar. Kecepatan angin bertambah dari rata-rata 15 knot per jam menjadi 20 knot per jam.
Dengan kecepatan sebesar ini, angin berpotensi membentuk gelombang setinggi lebih dari tiga meter di permukaan laut dan berbahaya bagi nelayan. Toni mengimbau nelayan untuk waspada terhadap perubahan cuaca dan tidak melaut, setidaknya, hingga pekan depan. Nelayan juga diminta tidak mengaitkan ombak besar dengan gempa bumi karena akan memicu keresahan masyarakat.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang