Sejumlah Jalur Mudik Diperlebar

Kompas.com - 03/09/2009, 20:26 WIB

JAKARTA,KOMPAS.com - Direktorat Jenderal Bina Marga Departemen Pekerjaan Umum melakukan pelebaran jalan untuk mengantisipasi kemacetan yang kerap terjadi pada arus mudik Lebaran. Sementara pada beberapa jalur rawan macet yang sudah tidak memungkinkan dilakukan pelebaran, akan dialihan melalui jalur-jalur alternatif.

Hal ini dikemukakan Dirut Bina Program Direktorat Jenderal Bina Marga Departemen Pekerjaan Umum Taufik Wijoyono, dalam paparannya mengenai kesiapan infrastruktur jalan jelang arus mudik, di Gedung Kompas Gramedia, Palmerah, Jakarta, Kamis (3/9).

"Untuk beberapa titik yang memang sudah tidak bisa dilakukan pelebaran badan jalan, maka arus kendaraan dialihkan ke jalur-jalur baru yang tidak begitu padat kendaraan," kata Taufik.

Di Provinsi Banten dan Jawa Barat Ditjen Bina Marga melakukan pelebaran jalan di beberapa titik dan perlintasan yang padat arus kendaraan. Di area Karawang, Ditjen Bina Marga melakukan penambahan empat baru lajur baru yang mulai dapat difungsikan pada H-10 Lebaran. Sedangkan di Pamanukan dan Loh Bener dilakukan pelebaran dari dua lajur menjadi empat lajur pada jalan sepanjang 7,2 kilometer. Di kawasan perlintasan kereta api Nagrek dilakukan pelebaran pada jalan sepanjang satu kilometer untuk mengantisipasi penumpukan kendaraan.

Hal yang sama juga dilakukan di Jawa Tengah. di Jalur Pantura, jalan yang menghubungkan Kanci dan Pejagan dilebarkan menjadi empat lajur yang mulai dapat difungsikan pada H-7. Sedangkan di Simpang Siuh dilakukan pelebaran jalan pada persimpangan kereta api yang akan fungsional mulai H-10.

"Untuk Yogyakarta, jalur-jalur mudik relatif aman. Tidak ada penumpukan berarti yang memerlukan pelebaran jalan maupun pengalihan jalur," ungkap Taufik.

Pengalihan jalan akan dilakukan di wilayah Sidoarjo yang mengalami penyempitan jalur akibat dampak lumpur Porong. Penyempitan jalur tersebut berpotensi besar menimbulkan kepadatan kendaraan dari arah Surabaya menuju Pasuruan maupun sebaliknya. Karena itu, Taufik mengatakan, kendaraan yang hendak melintasi jalur tersebut akan dialihkan melalui Mojokerto.

Khusus untuk arus kendaraan dari Surabaya menuju Madura yang melalui jembatan Suramadu, diperkirakan akan terjadi penumpukan di area pintu masuk jembatan. Selain itu, para pengguna jalan yang seringkali berhenti ditengah jembatan untuk sekadar melihat-lihat pemandangan di Selat Madura juga berpotensi menimbulkan kemacetan.

"Antisipasi untuk itu akan dikoordinasikan lebih lanjut dengan Jasamarga dan Polri," tukas Taufik.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau