JAKARTA,KOMPAS.com - Direktorat Jenderal Bina Marga Departemen Pekerjaan Umum melakukan pelebaran jalan untuk mengantisipasi kemacetan yang kerap terjadi pada arus mudik Lebaran. Sementara pada beberapa jalur rawan macet yang sudah tidak memungkinkan dilakukan pelebaran, akan dialihan melalui jalur-jalur alternatif.
Hal ini dikemukakan Dirut Bina Program Direktorat Jenderal Bina Marga Departemen Pekerjaan Umum Taufik Wijoyono, dalam paparannya mengenai kesiapan infrastruktur jalan jelang arus mudik, di Gedung Kompas Gramedia, Palmerah, Jakarta, Kamis (3/9).
"Untuk beberapa titik yang memang sudah tidak bisa dilakukan pelebaran badan jalan, maka arus kendaraan dialihkan ke jalur-jalur baru yang tidak begitu padat kendaraan," kata Taufik.
Di Provinsi Banten dan Jawa Barat Ditjen Bina Marga melakukan pelebaran jalan di beberapa titik dan perlintasan yang padat arus kendaraan. Di area Karawang, Ditjen Bina Marga melakukan penambahan empat baru lajur baru yang mulai dapat difungsikan pada H-10 Lebaran. Sedangkan di Pamanukan dan Loh Bener dilakukan pelebaran dari dua lajur menjadi empat lajur pada jalan sepanjang 7,2 kilometer. Di kawasan perlintasan kereta api Nagrek dilakukan pelebaran pada jalan sepanjang satu kilometer untuk mengantisipasi penumpukan kendaraan.
Hal yang sama juga dilakukan di Jawa Tengah. di Jalur Pantura, jalan yang menghubungkan Kanci dan Pejagan dilebarkan menjadi empat lajur yang mulai dapat difungsikan pada H-7. Sedangkan di Simpang Siuh dilakukan pelebaran jalan pada persimpangan kereta api yang akan fungsional mulai H-10.
"Untuk Yogyakarta, jalur-jalur mudik relatif aman. Tidak ada penumpukan berarti yang memerlukan pelebaran jalan maupun pengalihan jalur," ungkap Taufik.
Pengalihan jalan akan dilakukan di wilayah Sidoarjo yang mengalami penyempitan jalur akibat dampak lumpur Porong. Penyempitan jalur tersebut berpotensi besar menimbulkan kepadatan kendaraan dari arah Surabaya menuju Pasuruan maupun sebaliknya. Karena itu, Taufik mengatakan, kendaraan yang hendak melintasi jalur tersebut akan dialihkan melalui Mojokerto.
Khusus untuk arus kendaraan dari Surabaya menuju Madura yang melalui jembatan Suramadu, diperkirakan akan terjadi penumpukan di area pintu masuk jembatan. Selain itu, para pengguna jalan yang seringkali berhenti ditengah jembatan untuk sekadar melihat-lihat pemandangan di Selat Madura juga berpotensi menimbulkan kemacetan.
"Antisipasi untuk itu akan dikoordinasikan lebih lanjut dengan Jasamarga dan Polri," tukas Taufik.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang